Sabtu, 11 Februari 2012

[Fanfiction] Pursuit Of Happiness – 1st Chapter


Author : Tiffa0711
Genre : Romance, fantasy
Rating : PG – 13
Length : On writing
Cast : Lee Seungri, UEE


Gadis pucat bertubuh mungil itu berlari kecil ke arahku. Bibirnya membentuk senyuman, begitu pula matanya, membuatnya tampak seperti garis melengkung. Rambutnya yang berwarna keemasan berterbangan di sekelilingnya, tertimpa cahaya matahari.
Aku tak mengenal dirinya, tapi entah kenapa aku merasa bahagia melihatnya berlari menujuku. Dan entah mengapa aku tiba-tiba membuka kedua  lenganku, membiarkannya berhambur memelukku. Aku pun membalas pelukannya, seolah pelukan bagi dua orang yang telah lama tak jumpa. Perasaan entah apa namanya pun tiba-tiba mencuat dari dalam hatiku.
Ada apa ini? Aku tak mengenal siapa gadis ini, begitu pula tempat asing ini.
“Victory?” ucapnya lirih.
Victory? Siapa itu? Itu bukan aku pastinya. Tapi tak ada orang lain di tempat ini selain aku. Dan hanya akulah yang ia tatap dengan tatapan berbinar-binar.
“Tak lama lagi, Vic. Tak lama lagi, kita akan bertemu!”
***
“Oppa!! Seungie oppaaaa!!!” Jeritan super melengking itu nampaknya tak hanya sukses memecah keheningan pagi namun juga berhasil membangunkan kakak lelakinya yang masih tertidur pulas dibalik selimut tebal bermotif teddy bear-nya.
“Oppaaa!! Kajja! Antarkan aku ke sekolah!”
Sang kakak membuka matanya dengan terpaksa. Ia langsung mendengus sebal. Ia tahu betul suara cempreng siapa itu yang selalu mampu membuat paginya ‘suram’, adiknya Hara, yang kini duduk di bangku SMP kelas 8.
Tanpa membalas adiknya, ia langsung berjalan menuju lemari dengan malas, lalu mengambil sebuah celana jeans dan jaket yang tergantung. Ia tahu celana dan jaket itu sudah lama tak dicuci dan baunya yang.. uh. Namun tanpa pikir panjang ia langsung mengenakannya.
Hara menyambutnya di ambang pintu dengan wajah kesal. “Kajja opp—“ Ia menghentikan rengekannya dan langsung menutup hidung dengan telapak tangannya. “Oppa! Uh, sudah berapa bulan baju ini tak kau cuci?? Kau juga tak mandi? Lihatlah penampilan oppa yang mengerikan ini! Oh, bahkan lingkaran hitam di matamu semakin parah! Dan, bukankah hari ini oppa seharusnya sekolah?!”
“Aish, kau cerewet sekali! Kau tak mau malu karena terlambat bukan?”
“Aku akan lebih malu punya oppa yang jorok dan tukang bolos! Cepat ganti baju sana!” Seru Hara seraya mendorong oppa-nya masuk kamar. Seungri sendiri bingung dengan jabatannya sebagai seorang kakak yang selalu terkena omelan sang adik. Bukankah seharusnya seorang kakak yang selalu mengomel pada adiknya? Ia beranggapan adiknya adalah cetakan kedua dari eommanya. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan terutama sifat cerewetnya. Sayangnya, kini ibu dua bersaudara itu tengah terbaring lemah di ranjangnya akibat sakit yang ia derita.
Ayah mereka? Ia telah meninggalkan mereka saat Seungri berusia 5 tahun, secara harfiah. Ia belum meninggal, ia tiba-tiba pergi tanpa alasan sehari sebelum Hara lahir. Dan tiga tahun terakhir ini, Seungri sebagai putra sulung lah yang menjadi tulang punggung keluarga.
Ironis.
***
Bel istirahat berbunyi, para siswa segera berhamburan dengan wajah berseri-seri menanti berbagai makanan lezat di kantin. Namun tidak dengan seorang namja yang tengah menatap kosong makanan di hadapannya. Ia mengaduk-aduk makanannya dengan tak minat. Ia menyesal telah membelinya.  Seharusnya ia memakai uangnya untuk menebus obat ibunya.
Ia terbelalak ketika mangkuknya bergeser dengan sendirinya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Hyunseung telah mengambil alih makanannya. “Ya! Ya! Ya! Kau cari mati rupanya?”
“Ahahahaa..... ternyata aku berhadapan dengan singa yang 2 hari belum makan.” Ujar Hyunseung sambil menepuk bahu Seungri. “Wae? Apa yang membuatmu suntuk, man??”
 “Kurasa aku sudah bosan hidup.” Seungri mendengus. “Kau tahu? Bekerja paruh waktu tiap pagi dan sore, sekolah, merawat ibumu, mendengarkan omelan adikmu setiap pagi, dan sebagainya. Selalu seperti itu tiap hari!”
“Well, memang begitulah takdirmu!” Ujar Hyunseung innocent membuatnya endapat tatapan tajam dari Seungri.
“Itu membuatku gila! Kapan semua ini akan berakhir?”
Hyunseung terdiam, berusaha memilah kata-kata yang tak menyinggung namja di depannya. “Err, jadi kau... berfikir untuk...” Ia menelan ludah sejenak. “bunuh diri?”
Seungri nampak tak terkejut. “Hmm.. menurutmu? Well, suatu saat, mungkin.”
“OH MAN!! Kau gila?”
“Hey! Bukankah bunuh diri sudah menjadi hal wajar di negara kita?”
“Tapi, tapi apa kau tega meninggalkan ibumu yang sakit-sakitan, adikmu yang manis, dan.. aku sobatmu yang ‘tampan’ ini, huh?” Kalimat terakhir yang Hyunseung ucapkan sukses membuatnya mendapat tinjuan dari Seungri.
“YA! Kemana-mana aku lebih tampan darimu.” Seungri sadar masih ada orang di sekitarnya yang menyayangi dan membutuhkannya. Yang terpenting bagaimana nasib ibu dan Hara? “Entahlah, lalu bagaimana selanjutnya?”
Hyunseung terdiam memikirkan sesuatu. “Ha!! Yeoja!” Seungri menaikkan sebelah alisnya. “Yeoja! Carilah kekasih! Kau tahu, cinta membuat seseorang melupakan kepenatan dunia.”
Seungri terdiam.
“Choi Jinri dari kelas 11-A, ia gadis yang manis dan kaya. Yoona, ia tinggi, cantik, dan perhatian pada pacarnya. Atau UEE, tentu kau tahu dia, dia gadis yang populer, sexy, dan menarik! Tapi nampaknya akan sulit untuk mengencaninya, terutama bagimu yang tak terlalu populer. Oh ya dan... bla bla bla..”
“Cukup! Mungkin bisa kupertimbangkan.” Seungri menatap ke langit-langit kantin. “Hey, kau ingat gadis itu? Gadis yang keceritakan selalu muncul dalam mimpiku. Hari ini ia muncul ia muncul lagi, untuk ke 7 kalinya dalam seminggu ini. Ini membuatku sedikit was-was. Kau tahu pertanda apa ini?”
Hyunseung menatap Seungri shock lalu tawanya meledak. “Bwahahaaa.. YA! Seharusnya kau senang gadis itu setia menghantuimu! Apa dia cantik? Apa—“ Ia segera menghentikan lawakannya karena tatapan tajam Seungri yang seolah berkata AKU-SERIUS. “Aigoo, kenapa kau akhir-akhir ini sangat sensitive, huh? Well, menurutku kau akan segera bertemu dengan seorang... gadis. Hihihi..” Ia menyeringai.
“Yah, entahlah. Aku tak percaya hal semacam itu.”
***
“Oppa! Seungri-oppa!”
Seungri menoleh mencari penampakan seseorang yang yang memanggilnya... oppa? Selama ini Seungri kenal dengan sedikit yeoja di sekolahnya dan jarang sekalii diantara mereka yang memanggilnya.. oppa.
Dan.. ia mendapati seorang gadis yang tak pernah terpikirkan untuk bertemu dengannya. Gadis berpipi chubby dengan rambut kuncir kudanya. UEE.
Seungri nampak tak tertarik dan kembali menatap jalan. Namun seseorang menyentuh pundaknya. “Hosh... hosh... S-seungri oppa! Kau Lee Seungri bukan?”
“Ne, ada perlu apa?”
UEE tampak tercengang sejenak namun segera menggeleng-geleng kepalanya. Entah apa yang ia pikirkan, karena wajahnya tiba-tiba merona. “Woah, ia lebih tampan daripada yang kukira.” Gumamnya lirih. “Oh, annyeong haseo! UEE imnida, kelas 11-B. Senang berkenalan dengan Anda.” Ia menunduk dalam.
Entah kenapa Seungri tak bisa melepaskan pandangannya dari UEE. Benar kata Hyunseung, ia memang cantik dan.. sexy.
“Saya anggota baru klub fotografi. Mohon bantuannya!” Ia terdiam sejenak.
“Emm.. itu saja? Kurasa aku harus segera pulang. Aku ada kerja sampingan. Annyeong!”
“Oppa! Tunggu! Ada yang ingin kukatakan.”
“Apa? Katakan dalam 1 menit.”
“Eh?”
“Cepat, waktumu tinggal 30 detik.”
“30 detik??”
“Waktumu habis.”
“Oppa! Aku dengar dari member lain hasil potretanmu sangat bagus. Bisakah oppa mengajariku?”
Seungri berbalik menghadap UEE, membuat gadis yang berada dekat di belakangnya itu terkaget. “Dengar, pertama, aku sudah keluar dari grup itu. Kedua, jadwalku sangaaatlah padat. Ketiga, BERHENTI MEMANGGILKU OPPA. Aku baru mengenalmu semenit yang lalu. Jadi jangan sok akrab denganku, arraseo?”
Seungri melangkah dengan cepat meninggalkan UEE yang berdiri mematung. Ia harus segera menuju tempat*kerjanya atau gajinya akan dipotong lagi atau lebih buruk lagi ia bisa dipecat.
“YA! NAMJA DINGIN!! PANTAS SAJA TAK ADA YEOJA YANG MAU DEKAT DENGANMU! PABBOO!” Teriak UEE dari kejauhan yang dengan sukses menohok jantung pemuda berusia 17 tahun itu.
JLEB.
***
“YA! NAMJA DINGIN!! PANTAS SAJA TAK ADA YEOJA YANG MAU DEKAT DENGANMU! PABBOO!”
Kata-kata yang meluncur dengan indahnya dari mulut seorang UEE terus terngiang-ngiang di benak Seungri. Ini pertama kali dalam hidupnya ada gadis yang menghinanya dengan sadis seperti itu. Tapi mungkin ada benarnya yang dikatakan UEE. Seungri harus merubah sikap dingin dan cueknya itu, jika tak ingin menjadi jomblo seumur hidup. Ini akan sulit. Batin Seungri sambil menghembuskan nafas berat.
Sepulang kerja, di jalan menuju rumahnya ia menemukan seorang nenek tua yang terduduk di emperan toko dengan pakaian lusuhnya. Entah malaikat apa yang menghasutnya, Seungri berjalan menuju nenek itu dan berniat memberinya bantuan. Ia berkata pada nenek tua itu dengan lembut, “Ada yang bisa saya bantu, Nek?”
“Oh, Nak. Begini, nenek ini datang dari desa dan harus mengunjungi cucu nenek yang dirawat di Rumah Sakit. Namun nenek tak bisa pergi ke sana.” Jawabnya dengan wajah lesu dan putus asa.
“Saya bisa mengantar nenek ke rumah sakit itu. Dimana alamat rumah sakit cucu nenek?”
“Tidak. Tidak. Nenek bisa pergi sendiri.”
Seungri menatap kaget nenek yang tua rentan itu. “Anda yakin tak membutuhkan bantuan saya?”
“Tentu. Tapi masalahnya, nenek tak punya uang untuk naik bus.” Sang nenek menatapnya nanar.
Seungri tercengang. Ia bingung memilih bisikan malaikat atau iblis di sampingnya. Sang malaikat terus menyuruhnya untuk memberi nenek itu uang. Sedang sang iblis sebaliknya. Setelah berkutat dengan pikirannya selama semenit lamanya, akhirnya sang malaikat pun menang. Ia memilih untuk berbuat kebajikan.
Dengan segenap kerelaan (yang agak dipakasakan), Seunfri mengeluarkan sejumlah uang dari dalam amplop berisi gaji yang baru ia terima dan memberikannya pada nenek. “Nek, ini sedikit uang yang saya punya. Mohon digunakan dengan baik.”
“Tapi ini terlalu banyak.”
“Tak apa-apa, Nek. Nenek bisa membeli makanan dengan ini. Nenek belum makan bukan?” Jawab Seungri sambil tersenyum (yang agak dipaksakan). Wanita tua itu hanya mengangguk lemah.
“Gwenchana, Seungri.. Sekali-sekali kau berbuat kebajikan, apa salahnya? Lagi pula aku bisa mendapatkan uang dari gaji kerja sambilanku yang lain bukan?” Batin Seungri berusaha menenangkan pikirannya.
“Terima kasih banyak, Nak.”
TT_TT
***
Tok.. Tok... “Oppa~~~” Seru Hara dari balik pintu kamar Seungri sambi menggenggam sebuah buku tebal. Sungguh, ia tak akan pernah mau menyempatkan diri mengunjungi kamar oppa-nya itu jika ia tak membutuhkan bala bantuan untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
Tak ada jawaban.
Hara menggeram kesal. “Oppaa!! Aku masuk yaaa”
Ketika ia memasuki kamar Sang kakak yang super berantakan, ia mendapati kakaknya tengah berbaring dengan santai di atas ranjang sambil mengamati sebuah benda mengkilap di tangannya lekat-lekat. “Oppa!”
Akhirnya Seungri menyadari keberadaan adiknya itu dalam kamarnya dan sontak menyembunyikan benda itu di balik punggungnya. “Ah, eh.. A-apa yang kau lakukan dikamarku? Keluar! Kau mengganggu!”
“Aigoo! Aku hanya ingin meminta tolong pada oppa..” Hara menunjukkan puppy eyes-nya sambil menyodorkan bukunya. “Jebal~ Bantu aku mengerjakan ini, ya yaa oppa~~” Ia yakin taktik ini akan berhasil meluluhkan hati dingin oppa-nya.
Dan benar! Seungri langsung menyambut buku itu sambil memalingkan wajahnya. “Uhh, 5 menit saja. Setelah itu cepat pergi dari kamarku.”
“Siap boss!”
Seungri beranjak dari ranjangnya dan berkutat pada buku Hara di meja belajarnya. Sedang Hara, ia menangkap sesuatu berkilau di ranjang Seungri yang nampak asing dimatanya. Setelah diamati lekat-lekat, benda cantik itu adalah sebuah bola krista!l Ia menyentuh bola kristal itu hati-hati dan berdecak kagum karena keindahannya. Di dalamnya terdapat sebuah istana mungil yang ditutupi salju putih begitu pula hutan cemara imitasi di sekelilingnya. Hara mencoba menggoncangkannya dan butiran salju pun berhamburan. Indah sekali!
“Woaah, so beautiful.. Oppa, kau beli dimana? Tidak, oppa tak mungkin punya uang untuk membeli benda seperti ini. Kalau begitu, dapat dari siapa? Apa ini hadiah dari pacar oppa? Boleh aku memilikinya??” Cerocos Hara seperti biasa.
“YA! Jangan sentuh!” Dengan cekatan, Seungri merebut kembali harta karunnya. “Kau mengotorinya!”
“Aigoo, oppa ini seperti remaja yang sedang PMS saja, dikit-dikit marah.”
“Cepat keluar dan jangan mengganggu oppa lagi!” Ujar Seungri sambil menyembunyikan bola kristal itu dalam ddkapannya. “Ini!” Ia menyerahkan buku Hara dengan satu tangannya.
“Eh? Oppa belum mengerjakan satu pun soal!—“ Hara berhenti protes ketika mengetahui tatapan membunuh sang kakak. “Iya, iya! Aku keluar. Kamsa, oppa! Ini SANGAT MEMBANTU.” Cibirnya.
“Tunggu!” Seru Seungri membuat Hara berbalik dan mengeluarkan tatapan horor yang seolah berkata apa-lagi-maumu-huh? “Hara-ya, menurutmu oppa ini seperti apa?”
Kontan Hara langsung menjawab kurang dari seprempat detik, seolah hal itu tak perlu terpikirkan lagi baginya. “Oppa itu orang paling cuek dan menyebalkan di dunia!”
“Tapi oppa-mu ini tampan bukan??”
Buku yang semula dipegang Hara melayang dan mendarat di kepala Seungri dengan mulus. “Satu lagi. KEPEDEANN! Bweekk!” Hara segera mengambil langkah seribu keluar dari kamar Seungri.
“Yak! Dasar anak kecil jaman sekarang!”
***
“Terima kasih banyak, Nak. Karena kau telah menolong nenek, nenek ingin memberi sedikit imbalan untukmu.” Ujar nenek sambil tersenyum simpul.
Imbalan? Seungri tak menduga apa yang akan nenek beri padanya.
“Berikan tanganmu?” Meski agak bingung, Seungri mengikuti kemauan sang nenek.Ia menunjukkan telapak tangannya dan nenek menatapnya dengan cermat hingga dahinya yang telah keriput semakin mengerut. “Nenek telah membaca nasibmu.”
Dengan agak kaget karena tak menyangka nenek ini adalah peramal, Seungri berkata. “Jadi, apa yang tertulis di sana.”
“Di sana tertulis, banyak rintangan dalam hidupmu. Perjuanganmu masih sangat panjang untuk mencapai apa yang impikan.”
Seungri menghela nafas seolah ia tak kaget dengan ramalan itu, karena hal itu sudah jelas tertera pada wajah lusuhnya. “Huh. Sudah kuduga. Ehm.. tapi apa di sana tak tertulis tentang hal lain, seperti cinta contohnya?” Tanyanya to the point.
“Cinta?” Tanya nenek. Seungri pun mengangguk penuh harap. “Oh ahaha.. kurasa ada. Oh! Akan ada beberapa gadis di sekitarmu. Dan kau harus memilih di antara mereka siapa cinta sejatimu yang sesungguhnya. Nenek sarankan, biarlah hatimu yang menentukan.”
“Beberapa gadis? Satu gadis pun saja sulit kudekati karena sifat dinginku. Dan ini malah, beberapa? Siapa juga yang percaya hal semacam ini.” Elaknya dalam hati. Ia selalu berfikiran bahwa ramalan itu bohong, si peramal sebenarnya hanya mengatakan apa yang ingin kita dengar.
Tiba-tiba si nenek mengeluarkan sebuah kantung bulat berbahan bludru merah dari balik hanboknya. “Satu lagi. Nenek ingin memberimu ini. Tolong jagalah harta ini baik-baik.” Seungri menerimanya dengan penasaran akan isi katung itu, apalagi si nenek mengatakan “harta” pada benda itu. “Terima kasih, Nak. Kurasa nenek harus segera pergi.” Seungri membantunya berdiri.
Setelah sang nenek berjalan beberapa meter, Seungri pun berjalan pulang ke arah yang berlawanan. Setelah menoleh ke belakang, ia tak mendapati keberadaan nenek. Begitu cepatnya kah ia berjalan hingga lenyap begitu saja dari pandangan. Atau..
Mungkinkah, si nenek adalah jelmaan dari seorang malaikat yang sedang menguji para manusia di bumi?
Seungri pun kembali berjalan dan berusaha meyankinkan diri akan ketidak percayaannya akan tahayul.

TBC

Aww... ngebuat fanfic ini aku ngerasa pembohongan publik deh -___- Sifatnya Seungri di sini BEDA banget sama kenyataan. Di sini dia forever alone, aslinya behh... hobinya caper sama cewe.
Btw, MIAN fanfic ini bahasanya asli terlalu amatir banget (_ _)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar