Author : Tiffa0711
Genre : Romance, fantasy
Rating : PG – 13
Length : On writing
Cast : Lee Seungri, UEE
Gadis pucat bertubuh
mungil itu berlari kecil ke arahku. Bibirnya membentuk senyuman, begitu pula
matanya, membuatnya tampak seperti garis melengkung. Rambutnya yang berwarna
keemasan berterbangan di sekelilingnya, tertimpa cahaya matahari.
Aku tak mengenal
dirinya, tapi entah kenapa aku merasa bahagia melihatnya berlari menujuku. Dan
entah mengapa aku tiba-tiba membuka kedua lenganku, membiarkannya berhambur memelukku.
Aku pun membalas pelukannya, seolah pelukan bagi dua orang yang telah lama tak
jumpa. Perasaan entah apa namanya pun tiba-tiba mencuat dari dalam hatiku.
Ada apa ini? Aku tak
mengenal siapa gadis ini, begitu pula tempat asing ini.
“Victory?” ucapnya
lirih.
Victory? Siapa itu? Itu
bukan aku pastinya. Tapi tak ada orang lain di tempat ini selain aku. Dan hanya
akulah yang ia tatap dengan tatapan berbinar-binar.
“Tak lama lagi, Vic. Tak
lama lagi, kita akan bertemu!”
***
“Oppa!!
Seungie oppaaaa!!!” Jeritan super melengking itu nampaknya tak hanya sukses
memecah keheningan pagi namun juga berhasil membangunkan kakak lelakinya yang
masih tertidur pulas dibalik selimut tebal bermotif teddy bear-nya.
“Oppaaa!!
Kajja! Antarkan aku ke sekolah!”
Sang
kakak membuka matanya dengan terpaksa. Ia langsung mendengus sebal. Ia tahu
betul suara cempreng siapa itu yang selalu mampu membuat paginya ‘suram’,
adiknya Hara, yang kini duduk di bangku SMP kelas 8.
Tanpa
membalas adiknya, ia langsung berjalan menuju lemari dengan malas, lalu
mengambil sebuah celana jeans dan jaket yang tergantung. Ia tahu celana dan
jaket itu sudah lama tak dicuci dan baunya yang.. uh. Namun tanpa pikir panjang
ia langsung mengenakannya.
Hara
menyambutnya di ambang pintu dengan wajah kesal. “Kajja opp—“ Ia menghentikan
rengekannya dan langsung menutup hidung dengan telapak tangannya. “Oppa! Uh,
sudah berapa bulan baju ini tak kau cuci?? Kau juga tak mandi? Lihatlah
penampilan oppa yang mengerikan ini! Oh, bahkan lingkaran hitam di matamu
semakin parah! Dan, bukankah hari ini oppa seharusnya sekolah?!”
“Aish,
kau cerewet sekali! Kau tak mau malu karena terlambat bukan?”
“Aku
akan lebih malu punya oppa yang jorok dan tukang bolos! Cepat ganti baju sana!”
Seru Hara seraya mendorong oppa-nya masuk kamar. Seungri sendiri bingung dengan
jabatannya sebagai seorang kakak yang selalu terkena omelan sang adik. Bukankah
seharusnya seorang kakak yang selalu mengomel pada adiknya? Ia beranggapan
adiknya adalah cetakan kedua dari eommanya. Mereka berdua memiliki banyak
kesamaan terutama sifat cerewetnya. Sayangnya, kini ibu dua bersaudara itu
tengah terbaring lemah di ranjangnya akibat sakit yang ia derita.
Ayah
mereka? Ia telah meninggalkan mereka saat Seungri berusia 5 tahun, secara
harfiah. Ia belum meninggal, ia tiba-tiba pergi tanpa alasan sehari sebelum
Hara lahir. Dan tiga tahun terakhir ini, Seungri sebagai putra sulung lah yang
menjadi tulang punggung keluarga.
Ironis.
***
Bel
istirahat berbunyi, para siswa segera berhamburan dengan wajah berseri-seri
menanti berbagai makanan lezat di kantin. Namun tidak dengan seorang namja yang
tengah menatap kosong makanan di hadapannya. Ia mengaduk-aduk makanannya dengan
tak minat. Ia menyesal telah membelinya.
Seharusnya ia memakai uangnya untuk menebus obat ibunya.
Ia
terbelalak ketika mangkuknya bergeser dengan sendirinya. Ia menoleh ke samping
dan mendapati Hyunseung telah mengambil alih makanannya. “Ya! Ya! Ya! Kau cari
mati rupanya?”
“Ahahahaa.....
ternyata aku berhadapan dengan singa yang 2 hari belum makan.” Ujar Hyunseung
sambil menepuk bahu Seungri. “Wae? Apa yang membuatmu suntuk, man??”
“Kurasa aku sudah bosan hidup.” Seungri
mendengus. “Kau tahu? Bekerja paruh waktu tiap pagi dan sore, sekolah, merawat
ibumu, mendengarkan omelan adikmu setiap pagi, dan sebagainya. Selalu seperti
itu tiap hari!”
“Well,
memang begitulah takdirmu!” Ujar Hyunseung innocent membuatnya endapat tatapan
tajam dari Seungri.
“Itu
membuatku gila! Kapan semua ini akan berakhir?”
Hyunseung
terdiam, berusaha memilah kata-kata yang tak menyinggung namja di depannya.
“Err, jadi kau... berfikir untuk...” Ia menelan ludah sejenak. “bunuh diri?”
Seungri
nampak tak terkejut. “Hmm.. menurutmu? Well, suatu saat, mungkin.”
“OH
MAN!! Kau gila?”
“Hey!
Bukankah bunuh diri sudah menjadi hal wajar di negara kita?”
“Tapi,
tapi apa kau tega meninggalkan ibumu yang sakit-sakitan, adikmu yang manis,
dan.. aku sobatmu yang ‘tampan’ ini, huh?” Kalimat terakhir yang Hyunseung
ucapkan sukses membuatnya mendapat tinjuan dari Seungri.
“YA!
Kemana-mana aku lebih tampan darimu.” Seungri sadar masih ada orang di
sekitarnya yang menyayangi dan membutuhkannya. Yang terpenting bagaimana nasib
ibu dan Hara? “Entahlah, lalu bagaimana selanjutnya?”
Hyunseung
terdiam memikirkan sesuatu. “Ha!! Yeoja!” Seungri menaikkan sebelah alisnya.
“Yeoja! Carilah kekasih! Kau tahu, cinta membuat seseorang melupakan kepenatan
dunia.”
Seungri
terdiam.
“Choi
Jinri dari kelas 11-A, ia gadis yang manis dan kaya. Yoona, ia tinggi, cantik,
dan perhatian pada pacarnya. Atau UEE, tentu kau tahu dia, dia gadis yang populer,
sexy, dan menarik! Tapi nampaknya akan sulit untuk mengencaninya, terutama
bagimu yang tak terlalu populer. Oh ya dan... bla bla bla..”
“Cukup!
Mungkin bisa kupertimbangkan.” Seungri menatap ke langit-langit kantin. “Hey,
kau ingat gadis itu? Gadis yang keceritakan selalu muncul dalam mimpiku. Hari
ini ia muncul ia muncul lagi, untuk ke 7 kalinya dalam seminggu ini. Ini
membuatku sedikit was-was. Kau tahu pertanda apa ini?”
Hyunseung
menatap Seungri shock lalu tawanya meledak. “Bwahahaaa.. YA! Seharusnya kau
senang gadis itu setia menghantuimu! Apa dia cantik? Apa—“ Ia segera
menghentikan lawakannya karena tatapan tajam Seungri yang seolah berkata
AKU-SERIUS. “Aigoo, kenapa kau akhir-akhir ini sangat sensitive, huh? Well,
menurutku kau akan segera bertemu dengan seorang... gadis. Hihihi..” Ia
menyeringai.
“Yah,
entahlah. Aku tak percaya hal semacam itu.”
***
“Oppa!
Seungri-oppa!”
Seungri
menoleh mencari penampakan seseorang yang yang memanggilnya... oppa? Selama ini
Seungri kenal dengan sedikit yeoja di sekolahnya dan jarang sekalii diantara
mereka yang memanggilnya.. oppa.
Dan..
ia mendapati seorang gadis yang tak pernah terpikirkan untuk bertemu dengannya.
Gadis berpipi chubby dengan rambut kuncir kudanya. UEE.
Seungri
nampak tak tertarik dan kembali menatap jalan. Namun seseorang menyentuh
pundaknya. “Hosh... hosh... S-seungri oppa! Kau Lee Seungri bukan?”
“Ne,
ada perlu apa?”
UEE
tampak tercengang sejenak namun segera menggeleng-geleng kepalanya. Entah apa
yang ia pikirkan, karena wajahnya tiba-tiba merona. “Woah, ia lebih tampan daripada yang kukira.” Gumamnya lirih. “Oh,
annyeong haseo! UEE imnida, kelas 11-B. Senang berkenalan dengan Anda.” Ia
menunduk dalam.
Entah
kenapa Seungri tak bisa melepaskan pandangannya dari UEE. Benar kata Hyunseung,
ia memang cantik dan.. sexy.
“Saya
anggota baru klub fotografi. Mohon bantuannya!” Ia terdiam sejenak.
“Emm..
itu saja? Kurasa aku harus segera pulang. Aku ada kerja sampingan. Annyeong!”
“Oppa!
Tunggu! Ada yang ingin kukatakan.”
“Apa?
Katakan dalam 1 menit.”
“Eh?”
“Cepat,
waktumu tinggal 30 detik.”
“30
detik??”
“Waktumu
habis.”
“Oppa!
Aku dengar dari member lain hasil potretanmu sangat bagus. Bisakah oppa
mengajariku?”
Seungri
berbalik menghadap UEE, membuat gadis yang berada dekat di belakangnya itu terkaget.
“Dengar, pertama, aku sudah keluar dari grup itu. Kedua, jadwalku sangaaatlah
padat. Ketiga, BERHENTI MEMANGGILKU OPPA. Aku baru mengenalmu semenit yang lalu.
Jadi jangan sok akrab denganku, arraseo?”
Seungri
melangkah dengan cepat meninggalkan UEE yang berdiri mematung. Ia harus segera
menuju tempat*kerjanya atau gajinya akan dipotong lagi atau lebih buruk lagi ia
bisa dipecat.
“YA!
NAMJA DINGIN!! PANTAS SAJA TAK ADA YEOJA YANG MAU DEKAT DENGANMU! PABBOO!”
Teriak UEE dari kejauhan yang dengan sukses menohok jantung pemuda berusia 17
tahun itu.
JLEB.
***
“YA! NAMJA DINGIN!!
PANTAS SAJA TAK ADA YEOJA YANG MAU DEKAT DENGANMU! PABBOO!”
Kata-kata
yang meluncur dengan indahnya dari mulut seorang UEE terus terngiang-ngiang di
benak Seungri. Ini pertama kali dalam hidupnya ada gadis yang menghinanya
dengan sadis seperti itu. Tapi mungkin ada benarnya yang dikatakan UEE. Seungri
harus merubah sikap dingin dan cueknya itu, jika tak ingin menjadi jomblo
seumur hidup. Ini akan sulit. Batin Seungri sambil menghembuskan nafas berat.
Sepulang
kerja, di jalan menuju rumahnya ia menemukan seorang nenek tua yang terduduk di
emperan toko dengan pakaian lusuhnya. Entah malaikat apa yang menghasutnya,
Seungri berjalan menuju nenek itu dan berniat memberinya bantuan. Ia berkata
pada nenek tua itu dengan lembut, “Ada yang bisa saya bantu, Nek?”
“Oh,
Nak. Begini, nenek ini datang dari desa dan harus mengunjungi cucu nenek yang
dirawat di Rumah Sakit. Namun nenek tak bisa pergi ke sana.” Jawabnya dengan
wajah lesu dan putus asa.
“Saya
bisa mengantar nenek ke rumah sakit itu. Dimana alamat rumah sakit cucu nenek?”
“Tidak.
Tidak. Nenek bisa pergi sendiri.”
Seungri
menatap kaget nenek yang tua rentan itu. “Anda yakin tak membutuhkan bantuan
saya?”
“Tentu.
Tapi masalahnya, nenek tak punya uang untuk naik bus.” Sang nenek menatapnya
nanar.
Seungri
tercengang. Ia bingung memilih bisikan malaikat atau iblis di sampingnya. Sang
malaikat terus menyuruhnya untuk memberi nenek itu uang. Sedang sang iblis
sebaliknya. Setelah berkutat dengan pikirannya selama semenit lamanya, akhirnya
sang malaikat pun menang. Ia memilih untuk berbuat kebajikan.
Dengan
segenap kerelaan (yang agak dipakasakan), Seunfri mengeluarkan sejumlah uang
dari dalam amplop berisi gaji yang baru ia terima dan memberikannya pada nenek.
“Nek, ini sedikit uang yang saya punya. Mohon digunakan dengan baik.”
“Tapi
ini terlalu banyak.”
“Tak
apa-apa, Nek. Nenek bisa membeli makanan dengan ini. Nenek belum makan bukan?”
Jawab Seungri sambil tersenyum (yang agak dipaksakan). Wanita tua itu hanya
mengangguk lemah.
“Gwenchana, Seungri..
Sekali-sekali kau berbuat kebajikan, apa salahnya? Lagi pula aku bisa
mendapatkan uang dari gaji kerja sambilanku yang lain bukan?” Batin Seungri berusaha menenangkan
pikirannya.
“Terima
kasih banyak, Nak.”
TT_TT
***
Tok..
Tok... “Oppa~~~” Seru Hara dari balik pintu kamar Seungri sambi menggenggam
sebuah buku tebal. Sungguh, ia tak akan pernah mau menyempatkan diri
mengunjungi kamar oppa-nya itu jika ia tak membutuhkan bala bantuan untuk
mengerjakan tugas sekolahnya.
Tak
ada jawaban.
Hara
menggeram kesal. “Oppaa!! Aku masuk yaaa”
Ketika
ia memasuki kamar Sang kakak yang super berantakan, ia mendapati kakaknya
tengah berbaring dengan santai di atas ranjang sambil mengamati sebuah benda
mengkilap di tangannya lekat-lekat. “Oppa!”
Akhirnya
Seungri menyadari keberadaan adiknya itu dalam kamarnya dan sontak
menyembunyikan benda itu di balik punggungnya. “Ah, eh.. A-apa yang kau lakukan
dikamarku? Keluar! Kau mengganggu!”
“Aigoo!
Aku hanya ingin meminta tolong pada oppa..” Hara menunjukkan puppy eyes-nya
sambil menyodorkan bukunya. “Jebal~ Bantu aku mengerjakan ini, ya yaa oppa~~”
Ia yakin taktik ini akan berhasil meluluhkan hati dingin oppa-nya.
Dan
benar! Seungri langsung menyambut buku itu sambil memalingkan wajahnya. “Uhh, 5
menit saja. Setelah itu cepat pergi dari kamarku.”
“Siap
boss!”
Seungri
beranjak dari ranjangnya dan berkutat pada buku Hara di meja belajarnya. Sedang
Hara, ia menangkap sesuatu berkilau di ranjang Seungri yang nampak asing
dimatanya. Setelah diamati lekat-lekat, benda cantik itu adalah sebuah bola
krista!l Ia menyentuh bola kristal itu hati-hati dan berdecak kagum karena
keindahannya. Di dalamnya terdapat sebuah istana mungil yang ditutupi salju
putih begitu pula hutan cemara imitasi di sekelilingnya. Hara mencoba
menggoncangkannya dan butiran salju pun berhamburan. Indah sekali!
“Woaah,
so beautiful.. Oppa, kau beli dimana? Tidak, oppa tak mungkin punya uang untuk
membeli benda seperti ini. Kalau begitu, dapat dari siapa? Apa ini hadiah dari
pacar oppa? Boleh aku memilikinya??” Cerocos Hara seperti biasa.
“YA!
Jangan sentuh!” Dengan cekatan, Seungri merebut kembali harta karunnya. “Kau
mengotorinya!”
“Aigoo,
oppa ini seperti remaja yang sedang PMS saja, dikit-dikit marah.”
“Cepat
keluar dan jangan mengganggu oppa lagi!” Ujar Seungri sambil menyembunyikan
bola kristal itu dalam ddkapannya. “Ini!” Ia menyerahkan buku Hara dengan satu
tangannya.
“Eh?
Oppa belum mengerjakan satu pun soal!—“ Hara berhenti protes ketika mengetahui
tatapan membunuh sang kakak. “Iya, iya! Aku keluar. Kamsa, oppa! Ini SANGAT
MEMBANTU.” Cibirnya.
“Tunggu!”
Seru Seungri membuat Hara berbalik dan mengeluarkan tatapan horor yang seolah
berkata apa-lagi-maumu-huh? “Hara-ya, menurutmu oppa ini seperti apa?”
Kontan
Hara langsung menjawab kurang dari seprempat detik, seolah hal itu tak perlu terpikirkan
lagi baginya. “Oppa itu orang paling cuek dan menyebalkan di dunia!”
“Tapi
oppa-mu ini tampan bukan??”
Buku
yang semula dipegang Hara melayang dan mendarat di kepala Seungri dengan mulus.
“Satu lagi. KEPEDEANN! Bweekk!” Hara segera mengambil langkah seribu keluar
dari kamar Seungri.
“Yak!
Dasar anak kecil jaman sekarang!”
***
“Terima
kasih banyak, Nak. Karena kau telah menolong nenek, nenek ingin memberi sedikit
imbalan untukmu.” Ujar nenek sambil tersenyum simpul.
Imbalan?
Seungri tak menduga apa yang akan nenek beri padanya.
“Berikan
tanganmu?” Meski agak bingung, Seungri mengikuti kemauan sang nenek.Ia
menunjukkan telapak tangannya dan nenek menatapnya dengan cermat hingga dahinya
yang telah keriput semakin mengerut. “Nenek telah membaca nasibmu.”
Dengan
agak kaget karena tak menyangka nenek ini adalah peramal, Seungri berkata.
“Jadi, apa yang tertulis di sana.”
“Di
sana tertulis, banyak rintangan dalam hidupmu. Perjuanganmu masih sangat
panjang untuk mencapai apa yang impikan.”
Seungri
menghela nafas seolah ia tak kaget dengan ramalan itu, karena hal itu sudah
jelas tertera pada wajah lusuhnya. “Huh. Sudah kuduga. Ehm.. tapi apa di sana
tak tertulis tentang hal lain, seperti cinta contohnya?” Tanyanya to the point.
“Cinta?”
Tanya nenek. Seungri pun mengangguk penuh harap. “Oh ahaha.. kurasa ada. Oh!
Akan ada beberapa gadis di sekitarmu. Dan kau harus memilih di antara mereka
siapa cinta sejatimu yang sesungguhnya. Nenek sarankan, biarlah hatimu yang
menentukan.”
“Beberapa
gadis? Satu gadis pun saja sulit kudekati karena sifat dinginku. Dan ini malah,
beberapa? Siapa juga yang percaya hal semacam ini.” Elaknya dalam hati. Ia
selalu berfikiran bahwa ramalan itu bohong, si peramal sebenarnya hanya
mengatakan apa yang ingin kita dengar.
Tiba-tiba
si nenek mengeluarkan sebuah kantung bulat berbahan bludru merah dari balik
hanboknya. “Satu lagi. Nenek ingin memberimu ini. Tolong jagalah harta ini
baik-baik.” Seungri menerimanya dengan penasaran akan isi katung itu, apalagi
si nenek mengatakan “harta” pada benda itu. “Terima kasih, Nak. Kurasa nenek
harus segera pergi.” Seungri membantunya berdiri.
Setelah
sang nenek berjalan beberapa meter, Seungri pun berjalan pulang ke arah yang
berlawanan. Setelah menoleh ke belakang, ia tak mendapati keberadaan nenek.
Begitu cepatnya kah ia berjalan hingga lenyap begitu saja dari pandangan.
Atau..
Mungkinkah,
si nenek adalah jelmaan dari seorang malaikat yang sedang menguji para manusia
di bumi?
Seungri
pun kembali berjalan dan berusaha meyankinkan diri akan ketidak percayaannya
akan tahayul.
TBC
Aww... ngebuat fanfic ini aku ngerasa
pembohongan publik deh -___- Sifatnya Seungri di sini BEDA banget sama
kenyataan. Di sini dia forever alone, aslinya behh... hobinya caper sama cewe.
Btw, MIAN fanfic ini bahasanya asli terlalu amatir banget (_ _)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar