Jumat, 18 November 2011

[Fanfiction] Confession In Winter (1st chapter)

Made on : 2011/08/06
Title : Confession In Winter
Author : Tiffa0711
Genre : Romance, friendship
Rating : PG-13
Length : Three-chapters
Main cast : Park Bom (2NE1), G-Dragon/Kwon Jiyong (Big Bang)
Other cast : TOP/Choi Seunghyun (Big Bang), Sandara Park (2NE1), Lee Seungri (Big Bang)
Disclaimer : FF ini merupakan hasil pemikiranku. Jadi, please jangan ada plagiarism!
Note : FF ini special ditujukan pada para G-Bom shipper~ Para Daragon, Alien, Taerin, Daemin shipper dan lainnya juga kudu harus wajib baca! Jangan lupa like & komen juga!! *nodonginkemoceng* #maksa #ganyante
HAPPY READING, BLOGWALKERS!
***


Perngenalan tokoh :
1. Bom 2NE1 as Park Bom
Bom, hanya seorang gadis pendiam dan kutu buku yang sangat mencinta ‘buku’. Menurutnya, ‘reading is dreaming with open eyes’. Ia memiliki sifat yang tidak terlalu peka pada seseorang atau lingkungan sekitarnya. Ia memiliki seorang sahabat yang bernama Jiyong. Mereka telah bersahabat sejak kecil. Bom selalu mengagumi dan menyukai Jiyong, meski Jiyong sering kali mengerjai dan memanfaatkannya.
2. G-Dragon Big Bang as GD/Kwon Jiyong
Jiyong, seorang model berbakat dan lelaki terpopuler di Kyunghee (universitas Jiyong dan Bom). Ia lelaki yang humoris dan friendly. Ia bersahabat dengan Bom sejak umur 4 tahun. Ia sangat hobi menjaili sahabatnya itu sejak dulu, menurutnya ‘hidup tak akan menarik tanpa menjaili Bom’. Ia memiliki ekspresi yang mudah ditebak orang. Meski ia tampak acuh, namun sebenarnya dia orang yang sangat perhatian. Setahu Bom, Jiyong mengagumi Dara. Dan itu membuat Bom merasa perasaannya bertepuk sebelah tangan
3. TOP Big Bang as TOP/Choi Seunghyun
Teman dekat Jiyong, yang terkenal playboy. Ia senang mengerjai Jiyong dan Bom saat mereka berduaan.
4. Dara 2NE1 as Sandara Park
Seorang aktris cantik yang dikagumi banyak lelaki, termasuk Jiyong yang notabene juga murid popular. Dan rupanya, ia juga mengagumi Jiyong. (perannya di sini dikit banget)
5. Seungri Big Bang as Seungri
Senior Bom dan Jiyong. Ia terkenal akan sifat angkuhnya. Namun dibalik keangkuhannya ia menyimpan perasaan terhadap Bom, namun tak pernah ia ungkapkan, malahan ia sering kali memarahi Bom. Ia juga tampak jealous pada Jiyong yang selalu dekat dengan Bom. (perannya dikit banget)
***
“WHY DO I KEEP DREAMING OF YOU?!”
- Tiffa0711 -
Selama berjam-jam lamanya aku terus berkutat pada buku-buku berukuran super tebal yang bertengger di atas bangku perpustakaan. Aku membaca halaman-perhalaman dengan cermat hingga dahiku berkerut. Beberapa teks yang kurasa penting langsung kucatat pada sebuah note kuning.
“Hmm.. emm.. huh.. argh! Aku pusing sekali! Kepalaku serasa mau pecah! Siapa pengarang buku yang telah menciptakan sastra inggris serumit  dan segila ini?!” Geramku frustasi.
“Ssstt…” desis seorang penjaga perpustakaan.
“M-mianhae, ajusshi!” jawabku kikuk. Bodoh!
Kututup atau lebih tepatnya kubanting buku tebal itu dengan emosi yang menggebu-gebu. Argh, masih beberapa tahun lagi aku bersekolah di universitas ini, dan aku masih akan terus bertemu dengan buku-buku menyebalkan ini. Oh God.. ini sungguh membosankan.
Aku Park Bom. Aku hanya gadis biasa, seorang nerd (kutu buku), tak populer, dan sejenisnya. Aku bersekolah di Kyung Hee University, univeritas yang dihuni oleh murid-murid jenius. Aku sendiri heran bagaimana aku yang notabene gadis berotak pas-pasan ini bisa masuk sana. Aku jurusan sastra inggris. Dulu aku sangat menyukai membaca, menulis, dan bergelut dalam dunia sastra, namun setelah apa yang kualami setahun ini, aku jadi enek melihat apalagi membaca yang namanya buku. Sucks books, sucks school, sucks day..
Saat kuarahkan pandanganku menyusuri meja panjang perpustakaan, kudapati sebuah buku bercover pink bermotif hati yang lumayan tipis dibandingkan buku sastra inggris. Kuambil buku itu dan kuamati lekat-lekat covernya. Pada judulnya bertuliskan ‘Cara-Cara Jitu Menarik Hati Lelaki!’ lalu disampingnya bertuliskan ‘Best Seller’. Wew.. Jujur, seumur-umur aku baru pertama kali ini mendapati buku seperti ini. Well, aku memang biasa membaca buku sastra, novel, dan sebagainya. Hmm.. apa kucoba membacanya?? Arh, apa yang kau pikirkan, babo! Kukembalikan buku itu ke tempat semula.
Namun entah setan apa yang berhasil menghasutku untuk mulai membuka-buka halaman demi halaman buku itu. Ada yang harus kupastikan! Sebenarnya selama ini ada seseorang yang kusukai, namun aku khawatir perasaanku akan bertepuk sebelah tangan. Maka dari itu, aku ingin ia bisa melihatku.
Kubetulkan letak kacamata baca yang kukenakan. Lalu kugunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengorek-ngorek info-info penting dalam buku itu lalu kucatat dalam note. Kuresapi kalimat demi kalimatnya dan kucoba kuvisualisasikan dalam pikiranku. “Emm.. Uh, ini sama sulitnya seperti sastra inggris! Aku tak mungkin bisa melakukannya! Ini sangat—“ ucapku, namun terhenti saat menyadari seseorang tengah bediri di belakangku.
“Hmm.. ‘Cara-Cara Jitu—‘.” ujar orang itu yang tengah membaca judul buku yang tadi kubaca, mengatahui hal itu, segera saja kusembunyikan buku itu. “Hey! Kenapa kau menyembunyikannya? Buku apa itu, huh?” serunya.
“Ssstt.. ini perpus, bodoh!” ucapku langsung menyumpal mulutnya dengan bola kertas.
“YA! Kau mau membunuhku dengan ini ya??” serunya lagi, namun dengan nada berbisik. Terdengar aneh memang, membuatku hampir terkikik geli.
“Haha, dengar ya Jiyongie, aku memang sebelumnya bermaksud membunuhmu, namun aku teringat akan hutang-hutangmu yang belum kau bayar.”
“Jahat sekali kau, Bommie-ah~” rengeknya dengan raut wajah yang dibuat-buat. Tiba-tiba kedua mata sipitnya menatapku tajam. Tatapan yang aneh..
-DEG- Kenapa jantungku jadi dag dig dug begini..?
“Ji-jiyong, kau menggelikan. Untuk apa kau kemari?” balasku berusaha membuat ekspresiku sedatar mungkin.
“Kenapa kau jadi ketus begitu? Aku cuma mau kau memijatku~” katanya seraya duduk membalikkan badan. “Kajja! Aku sangat pegal hari ini.”
Mwo!! Dasar lelaki gla! Dia selalu menemuiku jika ada perlu saja, atau sering kali untuk menjailiku. Memang sudah biasa aku memijatnya, dan terkadang ia juga memijatku. Namun, di hari menyebalkan ini, Jiyong malah membuatku semakin bad mood. Huh.. ya sudah lah.. Aku pasrah saja, itung-itung balas budi. Aku pun memijatnya dengan malas.
“Hmm, Bommie, pijatanmu memang paling enak sedunia! Kau memang ‘Lady’-ku yang paling cantik, pintar, dan baik hati!” komennya.
“Haish, kau menjijikkan! Kau tahu aku paling benci lelaki penggombal.” balasku. Aku langsung beringsut menuju tempat penjaga perpus untuk meminjam buku yang tadi kubaca –‘Cara-Cara Jitu Menarik Hati Lelaki’– daripada harus terus berdekatan dengan lelaki menyebalkan ini.
“Ma Lady!! Kenapa kau pergi?” Aku tak mengindahkan seruannya.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan tanganku, hingga membuatku tersungkur ke belakang dan menimpa tubuh seseorang –Jiyong. -DEG- Selama beberapa detik kami bertatapan satu sama lain, hingga aku pun tersadar dari lamunan sesaat.
“Jiyong!!” Aku segera berdiri, mungkin wajahku kini sukses bersemu merah. Bodoh! Aku berbalik badan, berusaha agar wajah-memerah-ku tak dilihat Jiyong.
“Hwahahaaha..” terdengar tawa meledak dari Jiyong. Hah? Apa-apaan dia?
“Bommie-ah, k-kau pinjam buku ini?? Hwahaha…” tanyanya diikuti tawa.
Aish, itu kan buku ‘Cara-Cara Jitu Menarik Hati Lelaki’? Oh, noo! “B-bagaimana kau—“
“Ya! Park Bom, ada lelaki di sini yang sedang kau taksir ya?? Ayo ceritakan padaku?? Ciee…” godanya.
“A-aniyo!! A-ayo kembalikan!!” jawabku berusaha mengambil buku itu.
“Aah, aku sungguh jealous dengan pria yang berhasil mencuri hatimu itu. Beruntung sekali ia mendapatkan gadis sepintar, secantik, sebaik dirimu, apalagi suaramu sangat bagus saat bernyanyi.” Sungguh, aku panas dengan perkataannya barusan.
“Jiyong! Kumohon kembalikan!” Kataku memelas namun tetap berusaha menggapai-gapai buku itu yang tengah ia sembunyikan di balik badannya.
“Haha.. katakan dulu siapa dia?? Aku kan sahabatmu~”
“Argh, kau sendiri tak pernah memberitahuku siapa gadis yang kau suka~!” balasku.
Jiyong tiba-tiba terdiam sejenak. “Hmm, mengenai itu, sebenarnya dia adalah—“ ucapnya, namun terputus saat seorang lelaki datang dan menepuk pundaknya.
“Yo! JIYONG! Sedang apa kau di sini??” sapa lelaki bertubuh tinggi bermata sipit itu.
“Hey! TOP!” balas Jiyong.
“Aku mengganggu kalian?” tanya TOP.
Aku dan Jiyong tampak tergugup dan menjawab bersamaan. “Tidak!”
“Oh, begitu.. baiklah aku pergi dulu!” ujar TOP sambil tersenyum aneh, seolah menahan tawa.
“Hey, kau ini! Kemari kau!” kata Jiyong kesal sambil menarik kerah baju TOP. “Untuk apa kau kemari, huh?”
“Hey, Park Bom! Kau semakin cantik saja~” gombal TOP. Dasar playboy!
“Huh, kau dan Jiyong sama saja. Sama-sama playboy tukang gombal!” ucapku ketus.
“Haha, tentu saja. Kami kan G-TOP couple. Haha..” jawabnya sambil merangku Jiyong, namun Jiyong malah menghindar. Aku cekikikan melihat tingkah mereka. “Oh, ya, rupanya selama ini Jiyong selalu berkencan denganmu di perpus ini? Kalian ada ‘hubungan’ rupanya. Hmm..”
“MWO!?” pekikku berbarengan dengan Jiyong.
“Enak saja! Mana mungkin aku berpacaran dengan orang bodoh sepertinya.” elakku.
“Haish, aku kesini untuk menghindari para yeoja dan… dirimu (TOP) tahu!” timpal Jiyong sambil meninju lengan TOP. (para yeoja maksutnya fansgirl-nya Jiyong yang seorang mahasiswa popular di Kyung Hee)
“Iya-iya, mian. Hah? Jadi kau menghindariku, Jiyong? Teganya kau pada couple-mu ini! Jangan sampai couple name-mu berubah menjadi G-Bom.” Aku terkikik melihat ekspresi TOP yang seolah memelas itu.
“Oke, lebih baik kau segera pergi dari hadapanku. Kau tak lebih baik dari para fansgirl yang mengejarku. Jadi apa tujuanmu kesini!?” tanya Jiyong kesal bercampur frustasi karena daritadi TOP tak memperdulikan omongannya.
“Dara, ia mencarimu.. dari info yang kuperoleh ia akan menembakmu hari ini.” Jawab TOP serius. Raut wajahnya kembali keras seperti biasanya.
Jiyong tertegun sekaligus terkejut mendengarnya. Ia memandang lurus ke depan. Matanya tampak berbinar, tersirat kebahagiaan setelah mendengar pernyataan itu. “Dimana Dara??”
“Tampaknya dia menuju kemari. Mungkin di lorong.” ucap TOP.
Jiyong tersenyum penuh harap dan segera berlari keluar perpustakaan dengan semangat disusul TOP. Sedang aku? Aku hanya termenung, masih tertegun akibat hal itu. Dara.. menembak Jiyong? Jujur semua ini belum bisa diterima oleh logikaku. Perasaan kaget, bingung, dan.. cemburu bergulat dalam hatiku. Kenapa aku ini? Kenapa aku harus cemburu? Seharusnya aku bahagia sahabat terbaikku akan berpacaran dengan gadis yang selalu ia kagumi. Jiyong seorang model terkenal dan lelaki terpopuler di universitas. Dara seorang aktris cantik yang didambakan banyak lelaki. Sedang aku? Aku hanya seorang kutu buku, yang tiap jam kulalui bersama buku-buku. Sangat tidak sederajat dengan mereka berdua. bagaikan langit dan bumi. Seharusnya aku tahu, dari dulu Jiyong tak menyukaiku, hanya Dara seorang dihatinya. Aku yang terlalu ke-geer-an selama ini. Bodoh! Bom-ah, liat bagaimana ekspresi Jiyong saat mengetahui berita itu?
Tanpa pikir panjang aku segera berlari menuju lorong. “Menyebalkan! Bisakah sekali saja kau melihatku  sebagai seorang perempuan, bukan teman ataupun mainan!” gumamku.
- DEG -
Kudapati seorang gadis bertubuh mungil dan seorang lelaki berambut coklat yang kukenal saling berhadapan. Mereka dikelilingi banyak murid-murid universitas yang saling menyoraki.
“JIYONG TERIMA SAJA!?” teriak sebagian besar para penonton.
“TIDAK! JANGAN TERIMA!” teriak sebagian kecil dari mereka.
Heh? Seperti sedang menonton pertandingan sepak bola saja.
Kulihat Jiyong sedang menunduk, seolah berfikir keras. Untuk apa ia perlu mempertimbangkannya? Bukannya ia memang sangat suka Dara? Ah, mungkinkah..?
Jiyong kumohon! Aku memang tak mau berharap banyak, namun kumohon sekali saja, jangan berpacaran dengan Dara! Lihat aku, Jiyong!
Apa aku teman yang jahat?
Tidak, dalam masalah ini, aku percaya cinta haruslah diperjuangkan.
Jiyong tampak menyelipkan sebuah kertas di telapak tangan Dara, dan menyuruhnya membacanya dalam hati. Setelahnya, Dara tampak shock, namun ia lalu tersenyum kecil.
“Ehm, oke, aku menerimamu.” ucap Jiyong akhirnya. Ia lalu tersenyum lebar pada Dara.
“Gomawo, Jiyong-ah.” ucap Dara lalu membalas senyuman Jiyong.
Sebagian besar penonton pun bersorak heboh, dan beberapa orang segera menjauhi kerumunan sambil bersumpa serapah. “Ya! Jiyong, cium Dara. Suiiit.. Suiiit …!!” teriak TOP memanas-manasi diikuti siulan-siulan para murid.
Sebuah pukulan pun mendarat di kepala TOP. “Ya! Seunghyun! Kau ini! Itu sih nanti saja! Haha..” balas Jiyong, yang mengundang tawa para murid.
“CONGRATS DARA & JIYONG COUPLE!! KALIAN MEMANG PASANGAN SERASI!!” seru mereka.
“Ne, ne, gomawo, teman-teman semuanya!!” kata Jiyong.
Selama bermenit-menit lamanya mereka saling berpesta pora. Sedang aku hanya berdiri di kejauhan sambil menatap mereka semua nanar. Setelah mereka semua pergi hanya menyisakan aku, Jiyong, Dara, dan TOP. Haruskah aku mengucapkan ‘Chukkae’ pada mereka?
Bodoh, seharusnya aku sudah bisa menduganya..
Pandangan Jiyong terarah padaku. Ia terbelalak senang lalu melambai-lambaikan tangannya padaku. “BOM!!”
“Park Bom!” sahut TOP sambil menggerak-gerakkan tangannya, seolah menyuruhku ke sana, namun aku tak menggubrisnya, aku tetap dalam posisiku, terdiam mematung.
Sakit.. perih sekali rasanya…
B-bagaimana ini..
Harapanku selama 13 tahun ini pupus sudah..
Darahku terasa mendidih. Aku menggigit bibir bagian bawahku. Mataku memerah, terasa panas membakar mataku. Hingga setetes air mata mengalir dengan mulus lewat kelopak mataku. Kenapa harus di saat seperti ini? Argh, ini tidak bisa.. aku tak boleh menangis di hadapan Jiyong yang saat ini tengah berbahagia.
Aku pun segera berlari berlawanan arah, menjauh dari mereka bertiga yang menatap heran ke arahku, tak kuhiraukan teriakan-teriak Jiyong dan TOP. Yang kupikirkan hanya satu, yaitu segera pergi dari hadapan mereka. Menghilangkan Jiyong dari kehidupanku. Selama berlari menyusuri lorong-demi-lorong, kutumpahkan air mataku sebanyak-banyaknya, tak kupedulikan tatapan kesal atau erangan orang-orang yang kutabrak –karena sedari tadi aku berlari sambil terus menunduk—.
“BRUGH!” Aku hampir terjatuh jika saja orang yang kutabrak tadi tak menangkap tubuhku.
“Mi-mian..” ucapku lirih lalu kembali terkesiap berlari, namun ia malah menarik tanganku.
“YA! Begitukah caramu meminta maaf pada seniormu?!” bentaknya di mukaku.
“J-jeongmal mianhaeyo, Seungri-sonbae!” ucapku tergagap lalu membungkuk dalam.
“Huh? Aku akan memaafkanmu jika kau turuti permintaanku.”
“Ne! Apa itu.. sonbae?” kataku pasrah.
“Antar tasku dan gitarku ini ke kelasku, cepat!” titahnya. Apa?? Kelas sastra korea itu jauh sekali dari sini! Apa dia gila? Menyuruh perempuan membawa tas ransel beratnya plus gitarnya?? Haish, dunia ini banyak sekali makhluk-mahkluk tak berperasaan! “Ayo cepat!” paksanya, aku pun hanya bisa mengangguk lemah.
Tuhan, rencana apa yang akan berikan padaku? Kenapa hari ini aku sial sekali!
“Ini..” ucap Seungri sambil menyerahkan selembar sapu tangan berwarna biru muda. Aku menaikkan sebelah alisku, bingung. “Ini! Aku tak suka melihat yeoja cengeng sepertimu!” katanya sambil memalingkan wajahnya. Dasar! Dia ini! Seandainya kau berada dalam posisiku kau mungkin sudah gila!
“Ne.” jawabku seraya mengusap air mataku kasar. Aku langsung beranjak dari tempatku, secepatnya melaksanakan perintah seniorku, Seungri. Tiba-tiba kudapati Jiyong berada tepat dibelakangku saat aku akan berbalik. Ia terbelalak kaget menatapku, aku menghindari tatapannya.
“Hey, senior, begitukah caramu memperlakukan perempuan, huh? Dasar pengecut!” seru Jiyong seraya menarik kerah kemeja Seungri.
“Siapa kau?!” balas Seungri.
“Aku temannya!”
“Hah? Hanya teman. Jangan berlagak sok kau junior!?”
“BRUGH!” Jiyong tiba-tiba mendorong Seungri keras hingga terjatuh. Lalu Jiyong melempar ransel dan tas gitar yang tadi kupegang ke arah Seungri. Terdengar rintihan si senior dan sumpah serapahnya.
Aku pun segera pergi menjauhi mereka. Aku terus berlari-dan-berlari, tak perduli Jiyong yang terus meneriak-neriakkan namaku, tak perduli kakiku yang mulai melemas saking seringnya berlari. Aku hanya ingin lari dari kesedihan ini.
***
Aku menghela nafas panjang. Lelah. Pusing. Sungguh, aku tak kuat harus mendengarkan pelajaran sastra ini yang tampaknya tak akan pernah berakhir. Sedetik rasanya bagaikan setahun. Bosan. Bosan. Ditambah lagi aku jadi badmood gara-gara peristiwa tadi siang.
“DRRT.. DRRTT..” tiba-tiba ponsel disakuku bergetar. Fiuh, untung saja aku sudah meng-set hening di ponselku sehingga tidak akan berbunyi jika ditelpon seseorang. Tapi siapa yang menelponku disaat seperti ini?
Saat aku akan menekan tombol hijau, tiba-tiba telponnya terputus. Eh? Dasar, apa maksutnya dia? Pada menu panggilan tak terjawab tertulis nama ‘Kwon Jiyong’ disana. Haish, dia lagi-lagi membolos mata kuliah rupanya. Beberapa detik kemudian muncul pesan dari Jiyong.
From : Kwon Jiyong
Kau pasti bosan? Lihatlah ke jendela dekat koridor.
Eh? Apa lagi ini? Aku pun menatap ke arah jendela. Dan.,. kudapati muncul kepala Jiyong. Sontak aku terkaget. Mulutnya bergerak-gerak, seolah berkata ‘K-A-B-U-R-L-A-H-!’.
To : Kwon Jiyong
Apa? Apa maksutmu??
Apa? Kabur? Hal itu selama ini tak pernah terlintas di otakku bahkan melakukannya, sekalipun aku merasa bosan bukan main. Orang tuaku bilang, bahwa membolos itu perbuatan yang tercela dan juga beresiko diskors. Aku yang notabene anak rajin ini jelas tak mau melanggar peraturan universitas. Akhirnya, aku pun menggeleng ke arah Jiyong, menandakan ketidak inginanku membolos.
From : Kwon Jiyong
Bodoh! Cepatlah keluar! Aku  mau mengajakmu ‘kencan’.
Aku tahu, ‘Kencan’ yang ia maksutkan itu bukanlah kencan seperti sepasang kekasih. Melainkan ‘mengajakku membolos kemudian menjelajahi kantin untuk hunting makanan’, yeah itulah maksutnya. Ia sering kali mengajakku, namun hanya 2 kali saja aku menuruti ‘permintaan memaksanya’.
Jiyong, aku memang dari dulu menyukaimu dan bahkan.. err.. mencintaimu. Aku memang selalu ingin berada di dekatmu kapan saja. Namun.. kumohon, hari ini saja, aku tak ingin bertemu denganmu. Aku masih merasa terluka. Kenapa kau ini tak pernah peka sih? Kau seharusnya tahu dari dulu aku sudah menyukaimu, aku selalu berusaha memunculkan sinyal-sinyal agar kau bisa melihatku. Dan kau juga seharusnya tahu, saat ini aku sangat sedih saat mengetahui kau berpacaran dengan Dara. Argh, aku bingung dengan sifatmu ini!
“BRAKK!!” Pintu terbanting dengan kasar. Semua mata mengarah ke seorang lelaki berambut coklat pendek yang muncul dari pintu.
“PARK BOM!” serunya. Ia menatapku sedang aku hanya membelalak kaget. Dasar, Jiyong bodoh! Tak bisakah kau tidak membuatku malu sekali saja?! Wajah Jiyong tampak pucat, cemas, dan tergesa-gesa. Ia langsung berlari menuju bangkuku dan lalu menarik tanganku. Aku berusaha menghempaskan tangannya, namun cengkramannya terlalu kuat. Ia terus menarik tanganku menuju meja dosen.
“Songsaenim! Park Bom tadi memberitahu saya lewat ponsel bahwa ia sakit. Err.. asmanya kambuh. Lihatlah wajahnya pucat sekali! Dan ia berkeringat dingin! Bisakah anda mengizinkan Bom untuk ke UKS?” kata Jiyong (sok) cemas dengan wajah yang masih pucat.
Aigoo. Bakat pembohongnya aktingnya itu kambuh lagi. -__-”
“Eh? Siapa kau?” tanya sang dosen.
“Saya temannya. Saya takut penyakitnya semakin parah. Kumohon izinkan Bom ke UKS! Saya akan mengantarnya!” Kata Jiyong memelas.
“Tidak, taukah kalian mengganggu pelajaran?”
Jiyong tak putus asa, ia terus membujuk sang dosen, begitu pula sang dosen yang tak putus asa mengucap kata ‘Tidak!’.
Haish, rupanya Jiyong memang berusaha memaksaku membolos bersamanya! Ya Tuhan, Jiyong.. kau ini keterlaluan, membohongi pria tua renta itu! Tapi mau bagaimana lagi, aku harus mengikuti rencana Jiyong ‘melarikan diri dari neraka’. Jika dosen tetap saja menolak, dan menyuruhku duduk kembali, malah akan membuatku semakin malu. Jiyong juga tentunya, tapi apa dia punya malu? Kurasa tidak. Jiyong lelaki tergila dan tertidak waras yang pernah kutemui.
“BRUGH..” aku (pura-pura) terjatuh dan pingsan. Untung saja Jiyong menahan tubuhku di belakang sebelum aku jatuh ke lantai.
“BOM-AH!” Akting Jiyong. “Songsaenim! Aku harus membawanya ke UKS!” Hal yang tak kuduga, tiba-tiba Jiyong membopongku di kedua tangannya. OMO! Seharusnya tak begini! Seisi kelas tampak memperhatikan kami dengan shock. Argh, kumohon untuk hari ini saja aku ingin menjadi invisible!
“Oke, kalian boleh pergi. Cepat pergi! Kalian telah menyita waktu pelajaran!” kata pria tua dengan rambut penuh uban itu.
“Terimakasih, songsaenim!”
Jiyong yang membopongku terus berlari sampai keluar kelas. Aku pun membuka mataku, yang sedari tadi kupejamkan selama ‘berakting’. – DEG – Rupanya Jiyong sedang memperhatikan wajahku, dan saat aku menatap kearahnya, ia pun mengalihkan tatapannya.
“YA! TURUNKAN AKU!!” bentakku. Jelas aku marah. Dia seenaknya membopongku di depan banyak orang. Ia pun langsung menurunkanku dengan hati-hati. Aku langsung berjalan cepat menjauh darinya.
“Bom-ah!?” panggilnya lalu menarik pergelanganku.
“MWO?! Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!” Semprotku sambil memukul-mukul pundaknya. Namun ia malah tersenyum.. ia tersenyum.. senyumannya entah kenapa membuatku membeku, membuatku menghentikan pukulanku, membuatku menatap kedua mata sipitnya yang tinggal segaris itu, membuat jantungku berdegup kencang, membuat.. membuat waktu terasa terhenti.. membeku.
“Haloo? Kenapa kau? Kau benar-benar sakit? Mukamu pucat.” ujar Jiyong cemas, ia lalu menyentuh dahiku. Namun aku menepis tangannya dan kembali berjalan cepat. “YA! YA! Kau kenapa??”
“Jiyong, aku malu sekali tadi. Kau seharusnya tahu itu. Kau itu memang tukang paksa. Kau tak punya malu ya?? Kau orang tergila dan orang tertidak waras yang pernah kukenal! Argh, sungguh ini memalukan sekali. Aku tak akan mampu masuk kelas lagi dan bertemu Lee Songsaenim! Kau—“ Tiba-tiba perkataanku terputus saat, Jiyong menempelkan sebatang coklat di mulutku. Coklat?
“Haha, sungguh, ini kedua kalinya aku mendengar kecerewetanmu. Yang pertama, saat kita masih kecil, saat itu aku menguncimu di gudang Kwon ajusshi yang notabene gelap, angker, dan banyak tuyulnya (?). Kau menjerit-jerit histeris dan menangis. Setelahnya, kau memarah-marahiku dengan super cerewet dan memusuhiku 2 minggu lamanya.” jelasnya. Eh? Bagaimana dia ingat itu sudah bertahun-tahun yang lalu, aku saja tak ingat.
“Dan yang membuatku sebal, kau tak pernah meminta maaf padaku.” kataku.
“Hehe, mianhae. Aku bingung saat itu dan takut kau semakin marah.” ia malah cengengesan. Menyebalkan! “Mianhae, untuk hari ini.” katanya lirih sambil menunduk.
“Apa? Aku tak dengar?? Ulangi lagi?” godaku.
“Mianhae, untuk hari ini.”
“Apa???”
“JEONGMAL MIANHAE, MA LADY!!” teriaknya. Banyak murid yang menoleh ke arahnya. “Aish, selama nona, anda berhasil membuat harga diriku jatuh.” bisiknya.
“Hahaha.. jinjayo? Memang kau punya rasa malu? Kurasa tidak. Aku sudah mengenalmu dari lahir, tuan Kwon. Hihihi..”
“Coklat itu.. untukmu. Saat ke Jepang aku membelikannya untukmu. Bukankah kau sangat suka coklat? Ini imbalan karena kau selalu memijatku.”
“Umm.. ne, jeongmal kamsahamnida, Jiyongie!” ucapku senang lalu mencubit pipi Jiyong. Aku terkesiap membuka bungkusan coklat itu.
“Ya~ Bom-ah~ begitukah caramu berterima kasih pada sahabatmu, huh??” rengek Jiyong.
“Oke. Lalu apa yang kau mau?”
Ia tersenyum girang lalu tiba-tiba menyodorkan pipinya. Eh?
“Jiyong.. Kenapa? Pipimu? Kenapa?” tanyaku kebingungan.
“Ya Tuhan! Kau ini bodoh sekali ya? Maksutku, cium pipiku!”
“MWOO!?” pekikku. Sejak kapan ia bisa memintaku menciumnya? “ANIYO! Enak saja! Minta TOP saja yang notabene couple-mu itu!”
“Hey, gini-gini aku masih normal tahu! Ayolah~”
Bodoh, kenapa ia tak meminta Dara saja? Memikirkan bahwa Jiyong telah berpacaran dengan Dara membuatku makin kesal. Ahaa.. terbesit sebuah ide licik nan cantik di otakku. “Aaah,  baiklah, kau memang tukang paksa.” ucapku (pura-pura) pasrah.
Jiyong pun mendekatkan wajahnya. Dan.. Hap.. sepatu kats cantikku telah mendarat dengan mulus di pipinya. Jiyong berjingkat kaget sambil memegangi pipinya. “Y-ya! Tega sekali kau!”
“Mian, ini balasan yang tadi, kurasa memang lebih cocok sepatuku yang menciummu. Dasar yadong! Hihihi..” Aku segera melenggang pergi.
Tangannya merangkul pundakku dari belakang. Aku merasakan kehangatan tubuhnya, juga aroma parfum khasnya. Mungkin wajahku kini telah memerah, namun apa peduliku? Aku berharap waktu berhenti dan terus seperti ini. “Bom-ah, ayo kita kencan!”
Entah perasaan apa yang menggelayuti hatiku saat ini. Aku merasa tenang dan damai. Aku merasa, aku bisa merelakan Jiyong berpacaran dengan gadis lain, termasuk Dara.
“Umm, baiklah.”
Aku yakin, aku akan selalu bisa berada di sampingnya meski hanya berpredikat seorang sahabat.
“Kali ini kencan kita akan berbeda. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang menarik.”
Aku memang mencintainya, tidak, sangat mencintainya. Hingga bagiku tiap tarikan nafas yang kuhirup ini tak ada artinya jika tak ada dirinya. Aku begitu mencintainya, hingga aku sendiri kesulitan mendeskripsikannya.
“Emm.. benarkah? Kemana?”
Jiyong. Jiyong. Jiyong. Hanya ada namanya di pikiranku tiap menitnya. Jiyong yang membuatku tertawa terpengkal-pengkal. Jiyong yang membuatku tersipu malu. Jiyong yang membuatku tersenyum. Jiyong yang membuat hariku cerah. Bahkan Jiyong yang membuatku merasa ‘sakit’.
“Ani, itu rahasia, Ma Lady~”
“Uh”
Semakin kucoba melupakan, dirinya malah menyeruak dalam pikiran dan kehidupanku.
“Hey, aktingmu tadi sangat keren lo! Kukira kau itu hanya seorang kutu buku yang cuma mengerti buku-buku-dan-buku. Aku sendiri sangat heran, jika kau terus berkutat pada buku, bagaimana nasib pacarmu kelak, huh?”
“Haish, enak saja! Buku itu jendela dunia tau! Aku tak mau terbelakang karena tak pernah membaca.”
“Tapi kau malah terbelakang karena keseringan membaca dan tak pernah menonton tv ataupun internet. Buktinya sampai sekarang kau tak tahu ‘Hulk’ itu apa.”
“Heh?? Aku pernah kok menonton tv dan  berinternet. Meski cuma menonton channel berita dan sejenisnya sih. Kalau Hulk sih, aku juga tahu!”
“Sudahlah tak usah ngeles.”
Aku tak peduli kalau aku tak akan menjadi pacarnya kelak.
“Oh, ya, boleh aku berkata satu hal?”
“Gurrae, Jiyongie. Apa itu?”
Aku tak peduli ia tak pernah melihatku atau pun mengetahui isi hatiku.
“Kau tahu..” ia menghentikan kalimatnya, menekankan kesan dramatis. “Kau berat sekali tau. Saat aku menggendongmu, tanganku serasa mau copot. Untung saja aku ini kuat. Sebaiknya kau berdiet. Jika aku menggendongmu untuk kedua kalinya, aku pasti sudah pingsan. Kau harus memijatku nanti!”
Yang penting, Jiyong bisa selalu hidup bahagia bersama pilihannya nanti.
“PLETAKK!!”
“Dasar! Siapa suruh menggendongku! Kau tahu, kau telah melukai harga diri seluruh wanita di dunia dengan berkata seperti itu! Lalu yang jelas aku tidak ingin kau gendong untuk kedua kalinya!”
Aku tak ingin membuatnya sedih. Aku ingin selalu melihat senyumnya. Senyum yang membuat jantungku berdetak tak karuan. Senyum yang membuatku seolah tersentrum listrik 1000 volt.
 Aku tak ingin menjadi sahabat yang egois.
“Hahaa.. kecerewetanmu untuk ketiga kalinya. Bom-ah, kembalikan coklat itu. Coklat membuatmu semakin gemuk, aku tak ingin itu terjadi pada Lady-ku.”
“Huh? Kau sendiri cerewet. Perempuan cerewet wajar, sedang kau laki-laki. Aku tak yakin kau benar-benar seorang pria.” jawabku ketus. “Kyaa, enak saja! Kembalikan!! Awas kau! Bodoh!”
Menurutku arti cinta yang sebenarnya adalah berusaha membahagiakan orang yang kita cintai, bukannya memiliki dirinya seutuhnya.
Kalau perlu, aku akan mengorbankan segalanya demi kebahagiaannya.
Melihatnya tersenyum dan tertawa, itu sudah cukup.
Biarlah mimpi yang selama ini kuperjuangkan runtuh, itu semua demi kebahagiannya.
Jika mungkin Jiyong mencintaiku, mungkin rasa cintanya tak sebesar diriku mencintainya.
Aku bangga mencintai orang sepertimu, Kwon Jiyong.
- TBC -
***
Huwooo.. akhirnya slese jugak ff panjang, melankolis, nan membosankan ini!!
Mungkin ada yang bingung kenapa kok judulnya ‘confession in winter’? Ga nyambung banget. Saya selaku author ga waras juga bingung sendiri *plakk* Jadi ga usah ditanya yaa ^^ (?)
Gatau kenapa aku ngerasa PD banget untuk nyelesein project ff ini dalam waktu dekat.
Aku juga gatau kenapa aku bisa nyelesein ff ini gak pake terlalu mikir keras, tanganku kayak ngetik dengan sendirinya (?) Mungkin gara-gara hobi makan ayam kali ya? #heh?
Udah dulu curcolnya.
Have a respect to leave a comment or like ^^
Love ya, blogwalkers!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar