Made on : 2011/08/18
Title : Confession In Winter
Author : Tiffa0711
Genre : Angst, romance, friendship
Rating : PG-13
Length : three-chapters
Main cast : Park Bom (2NE1),G-Dragon/Kwon Jiyong (Big Bang)
Disclaimer : FF ini merupakan hasil pemikiranku. Jadi, please jangan ada plagiarism!
Note : FF ini special ditujukan pada para G-Bom shipper~ Para Daragon, Alien, Taerin, Daemin shipper dan lainnya juga kudu harus wajib baca! Jangan lupa like & komen juga!! *nodonginkemoceng* #maksa #ganyante
HAPPY READING, BLOGWALKERS!
***
“LOVE CAN SOMETIMES BE MAGIC.
BUT MAGIC CAN SOMETIMES JUST BE AN ILLUSION.”
“TINN.. TINN..” suara klakson mobil terus bergema dalam telingaku. Sebuah lamborghini hitam tengah melesat ke arahku. Ya Tuhan, beginikah akhir hidupku?
“BRUAGHH..”
Rupanya mobil tadi malah berbelok menghindariku sehingga menabrak pohon di trotoar.
Oh, tidak! Bagaimana ini?? Dua pilihan di hadapanku, menemui Jiyong yang menunggu di taman, atau menuju mobil yang tertabrak tadi. Err.. baiklah, kupilih pihan pertama! Kalau kau menjadi aku, kau pasti akan memilih pilihan yang pertama. Yeah, aku sudah dibutakan oleh cinta! Love is blind, right?
Orang yang berada di sekitar lokasi tabrakan segera berhambur ke mobil yang tertabrak pohon tadi. Aku segera berlari menuju taman. Taman yang biasanya hijau, kini berubah drastis dengan didominasi warna putih. Taman dipenuhi tumpukan salju. Namun taman itu tetap memancarkan keindahan dan keeksotisan yang tak akan pernah berubah. Malah menurutku, taman tampak semakin menawan saat musim salju. Kuedarkan pandanganku ke segala arah, mencari sosok lelaki yang selalu menjadi titik fokusku, lelaki yang selalu membuatku hanya melihat ke arahnya meski terhalang banyak orang. Namun nihil, tetap saja aku tak menemukannya.
Jiyong? Apa yang terjadi denganmu?
Dengan langkah gontai, aku menuju ke bawah pohon ek besar yang menjadi pusat taman. Pohon itu bertambah besar dan rindang. Menjadi saksi bisu dari persahabatan kami selama belasan tahun. Dan kuharap kali ini kau menjadi saksi bisu hubungan baruku dan Jiyong nanti.
Jiyong, dimana kau? Jangan buat aku cemas. Tiap detik aku selalu dag dig dug memikirkanmu. Selama ini kau selalu datang tepat waktu saat mengajakku janjian. Namun kenapa kali ini..
“Ehm, mencari seseorang, agasshi?” tanya sebuah suara.
-DEG-
Aku sontak menoleh ke samping. “Jiyong! Kau mengagetkanku saja! Kenapa kau telat? Ini sudah 15 men—“
“CHU~” Jiyong kembali mencium pipiku, namun kali ini yang kiri.
“Ya! Sejak kapan kau hobi membuatku jantungku hampir copot! Dua kali kau mencium pipiku!” wajahku sukses bersemu merah.
“Haha.. dua kali saat kau dalam kondisi tidak tertidur—“
“Heh? Maksutmu??” Aku menaikkan sebelah alisku, tertegun.
“Yeah, well.. ehmm.. dari dulu hingga sekarang, aku sering.. menciummu diam-diam saat kau tidur.” Katanya agak gugup. Aku heran, kenapa wajahnya tak bersemu merah atau apalah. Ah ya, aku lupa, dia kan memang ak punya malu. <– *hajar Bom*
“MWOYA!! YA! Dasar seenaknya saja!! Jangan-jangan kau pernah mencium.. bibirku..?”
“Hmm.. mungkin.. 2, 3 kali, entahlah. Aku lupa. Tapi kau senangkan?? Hahahaa..”
“A-apa?? KAU!?” Aku memukul-mukulkan tas tanganku ke arahnya. Senang? Tentu saja senang. Tapi kenapa ia membeberkannya dengan blak-blakan? (ck.. ck.. GD sodara’an sama Joni blak-blakan kali *ditimpuk*) Apa ia tahu aku malu setengah mati, kalau ia sih memang tak tahu malu. <– *hajar Bom lagi*
Hening beberapa menit. Ia terus menatap wajahku dengan tatapan yang menurutku jarang sekali ia keluarkan, tatapan malaikat. “Jiyong-ah, kenapa.. wajahmu pucat sekali? Kau sakit?”
“Ani, aku merasa kau cantik sekali hari ini.” Ha! Dasar tukang gombal.
“Sudahlah jangan memulai! Atau ini akan mendarat di dahimu.” Kataku sambil menunjuk higheels-ku yang setinggi 10 cm.
“Haha.. iya, nona Bom. Kau ingat dulu saat kita kecil, kita sering bermain petak umpet di sini sambil melihat matahari terbenam.” Aku mengangguk kecil. “Bagaimana.. kalau kita bermain petak umpet?”
“Emm.. baiklah. Kurasa akan seru. Ayo, batu, gunting, kertas!” Kencan sambil bermain petak umpet? Tak akan pernah kau temui dimana pun. Haha..
“AYO SUIT!!”
“BATU.. GUNTING.. KERTAS..” seru kami bersamaan.
Aku mengeluarkan kertas. Lelaki di hadapanku mengeluarkan batu namun dalam kurun waktu seprempat detik ia mengubahnya menjadi gunting. “CURAANNG!” sahutku.
“Enak saja, aku memang mengeluarkan gunting! Jadi kau jaga~”
“Grr..” Aku menggeram marah. Lebih baik aku tak usah berkelit dengan orang macam dia. Tanpa banyak bicara aku langsung memposisikan diriku di depan pohon ek dan menutup mataku, membelakangi Jiyong.
Tiba-tiba, bulu kudukku merinding saat Jiyong menaruh dagunya di pundakku dari belakang. Hmm.. aroma ini.. seketika menghipnotisku. Membuatku membeku. Membuat syaraf-syaraf otakku terhenti. Jantungku serasa berhenti berdetak karena terlalu kerasnya berdetak. Sesuatu dalam diriku seolah bergejolak. Cinta.
“Hey, fighting. Hihihi…” bisiknya lembut di dekat telingaku. Aku dapat merasakan nafasnya yang berhembus di leherku. Ia tiba-tiba menghilang tanpa suara. Dan aku pun memulai permainan. Aku menghitung mundur mulai dari 100.. Kenapa tiap detik terasa seperti bertahun-tahun?
“3.. 2.. 1.. Jiyong!” Seruku begitu menyelesaikan hitungan. Aku mengedarkan pandangan di sekitarku, namun ia tak berada dimana-mana dalam radius 10 meter. “Di mana dia??” Tanpa terasa matahari sudah terbenam dan selama beberapa detik aku termenung menyaksikan keelokan sumber cahaya-cahaya oranye itu. Seandainya ada Jiyong… Ah iya, aku kan harus mencari Jiyong! Bodoh! Eh, kenapa tiba-tiba di sini sepi yaa? Bukankah tadi rame sekali? Fenomena ia membuatku agak.. merinding.
Di kegelapan remang-remang senja, tampak sebuah papan seperti papan petunjuk yang bertuliskan‘FOLLOW IT!’. Tulisan itu bersinar di kegelapan entah ditulis dengan apa. Di sebelahnya terdapat setangkai mawar merah, aku mengambilnya di tanganku sambil tersenyum.
Lima meter aku berjalan, kutemukan lagi papan penunjuk arah, namun kali ini bertuliskan ‘WHY I LIKE YOU? COZ I THINK, YOU’RE AMAZING PERSON’. Aku terkikik geli lalu mengambil sekuntum mawar disebelahnya.
Selanjutnya bertuliskan ‘WHEN THEY ASK ME WHAT I LIKED BEST, I’LL SAY IT WAS YOU’
‘YOU MAKE ME FEEL SOMETHING I ABSOLUTELY CANNOT FEEL’
‘BERTEMU DENGAN MU ADALAH SEBUAH PENGALAMAN TERINDAH DALAM HIDUPKU’
‘CINTA ITU BUTA, MAKANYA AKU TAK BISA MELIHAT SELAIN KAMU’
‘CINTA ITU BUTA, BISU, DAN LUMPUH. KARENA KAMU SUDAH MEMBAWA SEPARUH JIWAKU’
‘CINTA. SATU KATA YANG KUPAKAI UNTUK MELUKISKAN BETAPA INGIN AKU MEMILIKIMU’
‘HIDUP SEMESTINYA MENJADI SEBUAH KEJUTAN YANG MENYENANGKAN. SEPERTI HALNYACINTA’
‘CINTA MEMBUAT KITA MELIHAT TANPA MATA, MENDENGAR TANPA TELINGA, BERBICARA TANPA KATA. HANYA ADA HATI DAN RASA’
“SO, DO YOU WANNA BE MINE? MA LADY?”
Aku tersipu malu membaca kalimat demi kalimat. Dan kalimat terakhir merupakan klimaksnya. Aku terus tersenyum lebar hingga memperlihatkan sederetan gigiku. Persaanku campur adukku turut meramaikan suasana, antara shock, senang, malu, dan nervous. Aku tak percaya Jiyong bisa membuat yang seromantis ini. Dari tadi aku tak sadar kalau sudah menempuh jarak yang cukup jauh tanpa kelelahan. Aku serasa mau meledak saking bahagianya. Tuhan jika ini hanya mimpi, tolong jangan bangunkan aku!
Sepuluh meter di depanku terdapat sebuah bangunan kecil putih. Bangunan itu beratap melengkung dan sisi-sisinya terbuka. Tempat itu tampak bersinar dan seolah menjadi titik utama di kegelapan. Eh? Aku belum tahu kalau ada tempat macam itu di sini. Lantunan piano dan biola terdengar begitu syahdu. Kurasa itu lagu Ode To Joy, Beethoven. Aku cukup sering mendengarnya, karena eonniku sering menyetel musik klasik. Lalu pertanyaannya, siapa yang memainkannya??
Dengan segenap rasa penasaran yang memuncak, aku segera berlari menuju bangunan megah berarsitektur Eropa itu. Kudapati seorang pemuda tengah memainkan sebuah biola coklat kehitaman. Pemuda berambut coklat itu mengenakan tuxedo putih dan topeng emas di wajahnya.
Ia menyadari kehadiranku dan segera menyambutku. “Nona Park, silahkan duduk sembari menikmati alunan musik.” Aku pun duduk di sebuah kursi anggun putih berkaki kecil yang sudah disediakan. Aku menikmati lagu yang ia mainkan, entah apa judulnya, yang jelas lagu ini membuatku hanyut dalam alunan melodinya. Setelah pemuda tadi menyelesaikan permainannya, ia menarik tanganku lembut untuk berdiri.
“Ehem.. kau siapa?”
“Kau pasti tahu. Aku lelaki paling tampan dan keren yang pernah kau temui.” Ia menyeringai.
“Hmm.. seumur-umur aku tak pernah bertemu lelaki seperti itu.” Kataku polos.
“Aish, kau ini pura-pura tak tahu atau memang bodoh sih? Apa perlu kucium untuk ketiga kalinya?”
Aku baru ngeh, saat ia mengatakannya. “YA! Kau Jiyong!! Ah, tidak. Jiyong kan bodoh, tak mungkin bisa bermain biola.”
“YA! Gini-gini aku sudah belajar biola dua bulan ini!”
“Eh? Kapan?? Aku tak pernah tahu, kukira kau hanya suka fashion fashion dan fashion. Lagipula 2 bulan? Kau gila!”
“Haish” ia mendesah kecil lalu membuka topeng abu-abunya. “Kau puas??” Aku membelalak kaget melihat wajahnya yang… ehm… semakin tampan.
Tapi ada yang mengganjal rasanya..
“Ji-jiyong? Kau sakit? Kau pucat sekali! Lebih baik kita segera pergi dari tempat dingin ini!” Aku hendak menyentuh dahinya, namun ia langsung memegang kedua pergelangan tanganku.
Dingin.
“Ani, tak usah. Aku baik-baik saja.” Katanya sambil tersenyum tulus. Kenapa perasaanku semakin tak enak melihat senyumannya itu.
Takut. Aku takut.
Aku segera melepaskan tangan dinginnya. “Lalu—“ Aku hendak bertanya namun ia memotongnya.
“Waktuku sebentar lagi.” Katanya hampir seperti gumamam.
Apa yang ia katakan? Aku tak salah dengar kan? “Jiyong?”
“Ah, Bom, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Aku mengangguk kecil, “Ne, waeyo?”
Ia langsung menggenggam erat kedua tanganku. Menyatukan kedua jari-jemari kami. Mengisi celah-celah kosong antara jemari kami. Hangat. Bukan hal itu yang kurasakan, hanya ada rasa dingin, padahal aku sangat mengharapkannya.
“Sebenarnya aku tak pacaran dengan Dara. Saat itu aku menerimanya, karena aku tak mau melihat seorang gadis malu karena ditolak mentah-mentah di muka umum. Kau tahu, aku memang mengagumi Dara dari dulu, dan itu karena kehaliaannya dalam berakting, tidak lebih.”
Ia mengeratkan genggamannya, menatap lurus di kedua mataku. “Dan kau tahu ada seorang gadis yang berhasil merebut hatiku. Aku sudah menyukainya sejak kecil. Dia memang tak secantik Dara dan gadis cantik lainnya. Namun, ia memiliki inner beauty dalam dirinya, yang berhasil membuatku tertawa ataupun tersenyum geli karena kebodohannya. Dan yang lebih penting ia berhasil membuatku hanya memandangnya seorang tidak dengan gadis lainnya. Kau tahu hal yang tak kusuka dari dirinya? Aku benci sifatnya yang cuek dan tidak peka. Bahkan selama ini ia tak tahu kalau aku menyukainya dan sering kali menciumnya.”
Aku menatap nanar ke arahnya. “Jiyong.. kenapa kau? Bisakah kau.. mengapa kau tak pernah tahu isi hatiku sebenarnya? Seharusnya.. hiks.. seharusnya kau tahu aku sudah menyukaimu sejak lama. Namun rupanya perasaanku bertepuk sebelah tangan. Kau sudah menyukai gadis lain..” ucapku polos, aku hampir menangis karena mengatakannya.
“PLETAKK!” Ia menyentil dahiku dengan jari telunjuknya.
“Aww! Kenapa kau malah… hiks.. menyentilku??” ujarku sambil terisak.
“Babo!! Bisakah kau tak merusak nuansa romantis ini?? Ya Tuhan, ke-tidak-pekaan-mu ini memang sudah akut! Yang kumaksud itu kau, Bom! Kau adalah gadis yang kusuka selama ini!”
Aku? Gadis yang ia suka?
Bukannya tersenyum atau apa, aku malah menangis. Menangis senang mungkin.
“Hiks.. hiks.. j-jinja?”
“Bom? Kenapa kau malah menangis??” tanya Jiyong kebingungan. Ia menyentuh pipiku dengan kedua telapak tangannya, lalu menyeka air mata di bawah mataku halus dengan ibu jarinya. “Bom, aku senang kau juga menyukaiku. Meskipun aku memang sudah tahu itu sejak lama. Aku bahagia kau menyatakannya secara langsung” Ia menatap kedua mataku dalam seolah-olah menelanku hidup-hidup. Tatapan yang menghipnotisku untuk membalas tatapannya.
“Mianhae, Bom-ah. Aku selama ini sering kali menyakitimu. Aku jugalah penyebab utamamu menangis. Aku tak suka melihatmu menangis. Aku merasa sangat bersalah karenanya. Jadi bisakah kau berjanji tak akan menangis lagi untukku?”
Tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk.
Tiba-tiba Jiyong memegang kedua pundakku dan menatap kedua mataku lebih dalam dari sebelumnya. Kelembutan yang terpancar dari kedua matanya membuatku serasa terbang.
Oh God! Jiyong, kenapa kau tampan sekali!? *cailah~ kekeke…*
Aku terkejut saat wajahnya mulai mendekat ke wajahku.OMO~ Secepat inikah?
“May I..?”
“Umm…” Aku mengerlingkan mataku seolah menjawab ‘of course’.
Wajah kami berpaut 5 senti. Aku menutup mataku rapat-rapat. Aku berusaha membuat wajahku senormal mungkin dan menyembunyikan semburat merah di kedua pipiku. Jantungku berpacu berlipat-lipat kali lebih cepat, seolah akan loncat karena terlalu keras berdetak. Aku malu sekali jika ia dapat mendengar detak jantungku dalam jarak sedekat ini.
Sesuatu yang dingin menyapu bibirku dengan lembut. Aku membeku seolah suhu tubuh Jiyong berhasil merambatiku. Lama-kelamaan nafasku terasa sesak, hingga akhirnya ia melepaskan bibirku.
Ia berbisik pelan di telingaku, “Bom-ah, saranghaeyo..”
“Nado, saranghaeyo, Jiyong-ah..” balasku dengan muka memerah.
Aku bahagia. Bahagia sekali. Dua kata-kata itu yang kutunggu bertahun-tahun lamanya. Akhirnya perasaanku terbalas juga. Dan kuharap aku bisa memilikinya selamanya.
Ia mengulurkan tangannya di depanku. “Maukah anda berdansa denganku?”
“Ne, tentu Tuan Kwon.” Aku menyambut uluran tangannya.
Lagu mulai dilantunkan dan kami memulai berdansa. Kedua tangannya berada dipinggangku dan tanganku berada di bahunya. Lagu klasik yang terlantun terasa begitu romantis sesuai dengan suasana saat ini.
Tunggu! Siapa yang memainkan lagunya kalau pemain biolanya saja sedang berdansa denganku. “YA!! Kau bohong! Siapa yang memainkan biola kalau kau saja di sini!”
“Oh iya!” ia memukul kepalanya sendiri. “Argh, ketahuan! Hehehe..”
“Lalu darimana asal musik ini?”
Ia menunjuk ke sebuah radio mungil di pojokan.
“Dasar! Stupid liar! Sempat kukira kau memang jenius bermain biola!” Aku menggembungkan pipi kananku kesal.
CHU~
YA! Lagi-lagi ia menciumku!
“Kau tahu dengan mukamu yang memerah seperti kepiting rebus itu, aku ingin mencium pipimu lagi. Hahaha..” ledeknya. Haish, di saat seperti ini, ia masih saja melawak.
“Dan aku akan segera menenggelamkanmu di pantai Jeju.” Ia terkekeh mendengarnya.
“Lagipula, kau kan pacarku~” Pacar? Dari dulu ia memang sering kali memanggilku Ma Lady dengan embel-embel ‘pacarku’. Namun sekarang, aku (mungkin) sudah berpredikat pacar resminya.
Huwaa.. mungkin sekarang aku adalah perempuan paling bahagia sedunia! Aku serasa menjadi cinderella sehari, tidak, kuharap selamanya.
Kami terlarut dalam lagu klasik yang mengalun mengiringi tiap langkah dansa kami. Entah setan apa yang mengahasutku, aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. Merasa nyaman, sangat nyaman, meskipun dingin menyergap tubuhku.
DAG – DIG – DUG – Jantungku kembali berdegup kencang. Aku tak peduli jika Jiyong mendengar detak jantungku yang begitu keras, agar ia tahu betapa aku mencintainya.
Andaikan waktu bisa berhenti. Aku ingin selalu seperti ini selamanya..
Musik berhenti dan tiba-tiba raut wajah Jiyong berubah drastis. Ia seolah sedang menanggung kesedihan luar biasa, namun tak ia tumpahkan dalam bentuk tangisan.
“Wae?”
“Mianhae. Jeongmal mianhae Bom-ah. Seharusnya tak seperti ini! Tak seperti ini!” ucapnya frustasi seolah akan menangis tapi tak bisa.
“Jiyong! Kenapa kau ini?”
“Err.. aku sudah mati, Bom-ah. Dan waktuku sebentar lagi, aku akan kembali ke alamku.”
Eh? Bicara apa dia?? Apa dia ini terlalu sering baca komik sehingga omongannya menjadi tak masuk akal. “Apa yang kau bicarakan?? Sudahlah jangan bercanda! Itu tak lucu! Mengerikan!”
“Aku sudah mati, Bom-ah. Tadi.. mobilku menabrak pohon… dan… “ katanya berusaha mengontrol emosinya. “Mianhae, aku tak bermaksud membuat bertambah sedih. Namun beginilah takdir yang sudah digariskan. Aku tak bisa menolaknya, meski sangat ingin.”
Jujur, aku bingung apa maksutnya dan apa yang harus kulakukan. Aku bingung. Kuharap ini hanya lelucon semata. Jika ia benar-benar meninggal, kenapa dia masih ada di dunia ini? Tidak! Tidak, itu tak benar! Ini pasti hanya lelucon! “Sudahlah Jiyong, jangan bicara seperti itu!”
“Aku sungguh-sungguh. Sebelumnya aku telah diberi kesempatan tinggal di dunia ini tiga setengah jam.. demi janjiku padamu. Dan sekarang waktunya telah tiba. Aku sudah menepati janjiku. It’s our last farewell!”
“Janji??” tanyaku bingung. Janji adalah hal yang sering kali ia buat dan juga ia ingkari. Tapi janji macam apa yang ia maksut?
Ia hanya tersenyum. Senyuman yang selalu membuatku cemas dan bingung.
Semakin lama tubuh lelaki di hadapanku ini semakin tarnsparan. “Jiyong!” Aku melompat memeluknya erat. Benar. Jiyong sudah mati. Aku tak menemukan detak jantungnya. Dingin. Hanya dingin yang kurasa. “Jangan pergi! Kenapa.. Kenapa kau meninggalkanku di saat seperti ini!! Kau tega Jiyong! Hiks..hiks..” Aku menangis di pundaknya, hingga tuxedo yang ia gunakan basah kuyup. Aku hanya bisa menangis. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Semakin lama tubuhnya semakin transparan. TIDAAKK!! Aku menjerit dalam hati. Air mata mengucur semakin deras. Jiyong, katakan padaku ini hanya lelucon! Siapa saja katakan padaku ini hanya mimpi dan saat aku bangun aku akan berada dalam kamarku! Kenapa harus seperti ini?? Kenapa Jiyong harus meninggal hari ini?? Argh, aku sungguh tak bisa berfikir jernih!! Semua pikiran dan memoriku bersamanya berhamburan kalang kabut dalam otakku. Sedih, shock, takut, .. cinta.
“A-andwe! Jiyong! Kau tak boleh… hiks.. pergi..”
“Bom-ah, kau sudah berjanji padaku untuk tidak akan menangis. Tapi untuk saat ini, menangislah jika itu dapat mengurangi rasa sakitmu.” Ia mengangkat daguku, membuat mataku dan matanya saling bertatapan.
“Don’t you understand that everything I do? I do it for you… Anything that might be special in me is you, Ma Lady.” Sebuah senyuman terlukis di wajah pucatnya, meski tubuhnya terasa dingin namun senyuman itu terasa sedikit menghangatkan hatiku. “I want you to be happy. More than anything else I wanted to be the cause of happiness in you. Aku ingin sekali bisa membahagiakanmu selamanya, namun apalah dayaku yang tak bisa melawan waktu ini. Kuharap kau bisa menemukan penggantiku yang lebih memperhatikanmu lebih dari apapun. Dan selama ini ‘ia’ selalu berada di dekatmu selain aku..” Ia memandang ke arah sebuah pohon.
Hah? Kalimat terakhir yang ia ucapkan membuatku penasaran akan maksut yang terselip di dalamnya.
“Hiks.. hiks.. Jiyong. Aku tak ingin berpisah denganmu! Kita telah melalui hari bertahun-tahuhn lamanya dan sekarang… kau seenaknya pergi!” tangisku kembali memecah. “Aku tak akan lagi punya tempat yang nyaman untuk aku tinggal, aku istirahat, senang, sedih, ketawa, kecewa. Karena kau akan menghilang dari hidupku untuk selamanya!!”
“Bom-ah, kau bukan gadis cengeng seperti ini, aku tahu kau gadis yang kuat dan dewasa. Perpisahan memang hal yang tak diinginkan oleh siapapun. Namun aku yakin rasa sakit itu akan membuatmu menjadi lebih kuat. Akan ada waktunya kita harus melepas semua yang kita sayang. Seperti saat kau kehilangan boneka kesayanganmu—“
“YA! Kau bukan boneka yang bisa digantikan. Kau.. segalanya bagiku!”
Ia mengusap puncak rambutku halus. “Mungkin kita ditakdirkan untuk bersama-sama, tapi kita tak ditakdirkan untuk bersatu. Ingat kita sudah bersama-sama sejak 15 tahun lebih, dan inilah akhir dari hubungan kita.”
Kini transparency tubuh lelaki yang tengah memelukku erat ini tinggal 25%. Itu membuatku semakin, sedih, takut, dan.. sakit. Ini bahkan lebih sakit daripada ditusuk seribu pedang. Fisikku memang tidak sakit, namun di sini.. di hatiku.. sakit.. sakit sekali. Tuhan mengapa kau mengambilnya begitu cepat dariku?
“Jiyong. Aku.. aku akan selalu mencintaimu.. selamanya.” Kataku sambil terisak.
“Ani! Jangan! Kau tak boleh mencintaiku selamanya! Kau harus menemukan penggantiku! Dan aku yakin ia akan segera datang padamu, karena ia selalu berada di dekatmu. Sehari sebelum aku meninggal, aku sudah mempercayakanmu padanya.”
“Andwe! Aku tak bisa! Aku tak bisa mencintai orang lain, selain dirimu!”
“Bodoh! Kau harus! Dan kau pasti bisa! Memang sulit untuk melepas orang yang kita sayang, termasuk saat aku sadar akan kenyataan pahit aku sudah meninggal dan harus meninggalkanmu. Bom-ah, Ma Lady, kau harus buka pintu hatimu. Jangan biarkan kau kunci rapat-rapat hatimu itu. Biarkan dunia membuatmu bahagia. Pintu yang lain pasti akan terbuka ketika satu pintu kebahagiaan tertutup.”
Speechless. Aku bingung harus berkata apa untuk meluapkan segala emosi yang campur aduk di hatiku. Hingga akhirnya aku hanya berkata. “J-jangan.. pergi..”
“Aku tak akan pernah pergi, Bom-ah. Aku selalu di sini. Di hatimu, SELAMANYA.” Ia mengecup puncak keningku lembut.
Oh, tidak. Tubuhnya semakin menghilang hingga aku sulit melihatnya. Kenapa? Kenapa waktu tak berpihak padaku? Kenapa waktu seolah berusaha menjauhkanku darinya ketika kami tahu bahwa kami saling mencintai.
“I want to tell you with my last breathe that I have always loved you.” Ucapnya lirih.
Untuk terakhir kalinya.
Kata-kata itu seolah bergema terus menerus dalam kepalaku.
Pelukanku terlepas tiba-tiba saat ia lenyap dalam sekejap mata.
Hilang.
Hilang, ia hilang untuk selamanya!!
Jiyong yang bodoh, Jiyong yang menyebalkan, Jiyong yang romantis, Jiyong yang selalu membuatku kesal, Jiyong yang membuatku menangis, Jiyong yang membuatku salah tingkah, Jiyong yang membuatku tertawa, ceria, dan membuat hari-hariku berwarna seolah tak ada akhirnya. Jiyong-ku, Jiyong yang kucintai segenap hatiku.
Jiyong pergi. Pergi dengan membawa separuh hatiku. Dan meninggalkan separuh hatiku yang rapuh. Ia membuatku seolah hanya boneka tak bernyawa.
Aku terjatuh ke lantai keras berwarna hitam putih di bawahku. Aku masih terbelalak, menatap kosong atmosfer di depanku. Air mata yang tadi terhenti karena shock, kini mengalir lagi dengan lebih deras, yang membuat make up-ku semakin luntur. Mungkin kini wajahku terlihat mengerikan, namun apa peduliku? Yang kupikirkan hanyalah..
Bagaimana aku bisa menutup luka menganga di hatiku ini?
Bagaimana Jiyong bisa kembali dalam pelukanku?
Luka ini. Sakit. Sakit luar biasa. Terasa menyesakkan di tiap tarikan nafasku dan detak jantungku. Akankah aku bisa hidup setelah ini? Bahkan tujuan hidupku telah lenyap. Siapa saja, tolong aku, tolong aku dari penderitaan mengerikan ini??!
“HUWAAAA….!!” jeritku frustasi sambil memukul-mukul lantai.
“BRUGH..” Aku terjatuh lemas saat pening luar biasa menyergap kepalaku yang sedang kacau balau bagai dihembus angin tornado.
“Grep.” Seseorang tengah menggendongku. Aku tak tahu siapa itu. Pandanganku memburam, pendengaranku memburuk, seolah indra-indraku mati rasa.
“Park Bom!” panggil orang itu. Laki-laki? .. Jiyong?
“Ji-jiyong..” kataku lemah.
Aku terlalu sedih dan lelah. Lelah.
Merah. Kuning. Biru. Pink. Hijau. Warna-warna itu terus berkelebat dalam alam bawah sadarku. Dan diakhiri dengan warna hitam yang pekat.
Aku lenyap dalam kegelapan alam bawah sadar. Seolah terjebak dalam terowongan kesedihan tak berujung.
“ Now & Forever = These are two times I want to be with you “
-THE END-
***
Yay! Akhirnya tamat~^^
Ada yang nangis bombay, huh? Oke, kayaknya gak ada -_- Emang ini FF melankolis gak jadi. Ada yang penasaran sama ‘cowok’ yang nyelametin Bom?? Kekeke.. baca side story & sequelnya nanti~~^^
Sebagai tambahan FF ini bakal kubuat sequel-nya yang jauuh lebih panjang. Tapi aku gak janji bakal memuaskan dan cepet publish u_u
Maaf bagi readers yang ngarepin hepi ending, tapi karena author lagi mood bikin kesel orang makanya dibuat sad ending deh, lagian gak keren juga kalau hepi ending (?)
Kalo menurut kalian bagus silahkan komen & like. Kalo menurut kalian jelek silahkan kritik, yang mau ngebash juga boleh (?), yang penting tinggalin jejak~^^
See ya, in the next FF.. Amien (?)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar