Senin, 21 November 2011

[Fanfiction] Moonlight Secret (Chapter 1st : Lonely)



Title : Moonlight Secret
Author : TiffaV1
Genre : romance, fantasy
Rating : PG-13
Length : Chaptered
Cast : Kim Soo Jin (OC), Choi Seunghyun / TOP (Big Bang), Kim Kibum / Key (SHINee)


***
“Seunghyun-ah!” Seruku pada seorang namja tinggi berambut hitam di hadapanku. Ia bergeming. Aku berdecak kesal. Lalu kupandangi paras tampannya. Ia tampak memejamkan mata sambil berkonsentrasi mendegarkan musik lewat earphone-nya. Wajahnya seolah memancarkan kelembutan, begitu pula senyumnya.
Aku melongo.
Ah~ Semakin hari kau semakin tampan saja. Tak salah kau menjadi namjachingu-ku. Haha..
“Soojin-ah?” ucap Seunghyun. “Err, ada apa dengan wajahmu?” Ia menatap tampang blo’on-ku dengan keheranan.
“Ah-ahniyo!” Sahutku cepat. “Err, lagi dengerin apa?” tanyaku. Tangan jahilku merebut salah satu earphone-nya dan memasangnya pada telingaku. “Aish, kenapa kau hobi sekali menyetel lagu ‘bikin ngantuk’ seperti ini??” Ledekku saat mendengar musik klasik yang mengalun lembut di telingaku.
“Mwo?!”
“Well, pantas saja kau sering sekali tidur saat pelajaran. Tapi, sungguh ini tidak keren! Penampilan cool-mu itu tak cocok dengan genre klasik. Ah, mending hip hop atau.. rock!” Seruku heboh sendiri. Namun yang kukometari malah cuek bebek, lebih berkonsentrasi pada ‘dunia’nya sendiri. “YA! YA! Kau dengar aku, atau tidak??”
“Oh.” Balasnya singkat, masih menatap layar iPod.
Grr.. sebuah ide kembali terbesit. Kucabut paksa iPod-nya dari sambungan earphone, lalu menggantinya dengan hape milikku. Kusetel lagu favoritku.. Linkin Park!
“Ya!” Sahut Seunghyun seraya melepas earphone-nya. “Musik heavy metal itu bisa merusak pendengaran!”
Aku menatapnya tajam, lalu memasangkan earphone pada telinganya (dengan paksa). “Just, listen it!” Aku tersenyum penuh kemenangan.
***
“Yaaa~~ Hyunnie-ah! Kau marah padaku gara-gara tadi siang yaa?” Ucapku sambil bergelayut manja di sebelahnya.
“.....”
“Ya!”
Ia mendorong tubuhku pelan, menjauh darinya. “Please, ini tempat umum. Dan jangan panggil aku ‘Hyunnie-ah’. Itu menjijikkan.”
Aisshhh!!! Dasar namja dingin!
“Oh, oke.” Jawabku enteng seraya berjalan satu langkah di belakangnya.
Komentarnya barusan, sungguh menyesakkan, seolah ada puluhan anak panah menancap di jantungku. Aku sebagai yeojachingu-nya hanya ingin bersikap hangat padanya. Namun, kenapa ia malah menyikapinya dengan dingin?
Kupandangi punggung lebarnya. Kenapa seperti ada suatu ‘atmosfer’ aneh di sini? Seolah ada suatu tembok es yang memisahkan aku dan Seunghyun. Suasana di sini sangat.. mencekam.
“Ya~ Nanti malam kau bisa ke rumahku?” ujarku berusaha mencairkan suasana.
“Untuk apa? Kalau tidak penting, aku tidak akan datang.”
“Kau ini jual mahal sekali! Kita tak pernah nge-date beberapa minggu ini! Ayolaah, aku akan mengadakan barbeque di halaman belakang! Lagipula nanti kan malam minggu. Mau yaa, yaa?” Pintaku memelas.
“Err, aku tak bisa. Aku ada keperluan malam ini.”
“Yaah~ Baiklah kapan-kapan saja.” Aku menghela nafas, pasrah. Pasrah? Ini memang bukan gayaku. Seunghyun sebenarnya adalah tulang punggung keluarga, jadi tiap sore ia harus kerja paruh waktu. Jadi mau bagaimana lagi, aku harus menghargai kehidupan pribadi Seunghyun.
Aku berjalan mendahuluinya sambil menundukkan kepala. “Annyeong.” Ucapku lesu. Tiba-tiba ia menarik pergelangan tanganku lembut.
“Kurasa aku bisa. Tapi mungkin akan agak telat.” Kata Seungyun datar.
“Jeongmal!?” Seruku seraya melompat memeluk lengannya.
“HEY!” Hahahaaa....
***
 (flashback)
“Kim Soojin, ikut aku!”
“Eh? Untuk apa, sonbae?”
“Ikut saja!” Ia berusaha menarik tanganku, namun dengan cekatan aku menghindar.
Ia menunjukkan tatapan yang tak dapat diartikan padaku.
Aku membeku.
Aku luluh.
Ia pun dengan mudahnya merengkuh pergelangan tanganku lembut. Tak dapat berbuat apa-apa lagi, aku pun hanya bisa mengikutinya.
Ketika itu aku masih kelas 1 SMA. Sungguh, masa-masa yang kelam. Kami para junior yang masih polos tiap hari selalu ditindas oleh para senior. Salah satu dari senior menyebalkan itu adalah CHOI SEUNGHYUN. Argh, tapi entah kenapa tiap kali aku berusaha berontak ketika dikerjainya, aku tak bisa. Tatapannya.. Ya, ia memiliki semacam tatapan hipnotis. Tak ketinggalan wajah tampannya yang.. kalian tahu kan?
Siswi-siswi yang ada di lorong sekolah tiba-tiba menyoraki kami dengan hebohnya dan beberapa diantaranya bahkan bersuit-suit ria. What’s on earth? Ada apa dengan mereka ini?? Apa ada yang salah dengan seragamku?
“Fighting, Seunghyun-ah!” seru mereka.
Argh, aku makin bingung.
Kita pun sampai di sebuah spot sepi yang jarang ada murid berlalu-lalang.
“Hey, ada yang ingin kubicarakan.”
“Apa?”
Entah kenapa, ia malah diam seribu bahasa.
“Maukah kau menjadi yeojachingu-ku?”
DEG.
A-apa-apaan ini?? Senior yang selama ini selalu mengerjaiku malah menembakku? I-ini pasti mimpi!!
“YA! Jawab aku. Ini bukan mimpi.” Katanya seolah tahu isi kepalaku.
“Anu, b-begini. Tak bisakah.. sonbae memberiku.. waktu?”
“Tidak bisa! Harus sekarang.”
Aihh, dia ini maksa sekali sih! Tak tahu aku lagi galau apa?!
Tiba-tiba ia kembali menunjukkan tatapan yang sulit diartikan. Namun kali ini tatapannya memancarkan kelembutan. Tatapan yang sangat langka dari seorang Choi Seunghyun. GLEK. Kenapa aku jadi dag-dig-dug gini??
‘Soojin! Terima saja! Jika kau berpacaran dengannya, kau pasti tak akan diisenginya lagi!’
‘Jangan! Kalau kau tak benar-benar menyukainya, lebih baik kau tolak saja!’
Argh, ottokhae??
“Ne, aku mau jadi yeojachingu-mu.” Kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur dengan mulusnya dari bibirku.
Seunghyun tampak agak kaget, namun dengan cepat ia kembali mengubah ekspresinya yang semula, datar dan dingin. “Oh, oke.” Ia pun melenggang pergi.
What!? Begitukah kau bersikap pada pacar barumu?? Jinja!
Saat itu aku memang agak terpaksa menerima tambakannya. Mau bagaimana lagi? Aku sudah capek ditindas para senior. Sudah setahun kami pacaran. Aku merasa kami tidak seperti pasangan kekasih. Ia selalu cuek dan menyebalkan. Aku selalu bingung bagaimana menanggapinya. Aku bingung dengan perasaanku. Apakah aku menyukainya? Apakah ia juga menyukaiku?
Haruskan aku putus?
(End flashback)
***
“YAA!! SEUNGHYUN PABBO!! KATANYA AKAN SAMPAI JAM 9!! DIMANA DIA SEKARANG??” Aku terus-terusan berteriak, menumpahkan kekesalanku, sambil menjejak-jejak lantai. Bagaimana tidak kesal coba! Ini sudah hampir jam 12 malam dan ia belum juga datang! Hapenya ia non-aktifkan, sehingga aku tak dapat menghubunginya.
“Argh! Untuk apa aku menunggunya semalaman suntuk?? Lebih baik aku tidur!” Aku yang sedari tadi nongkrong di teras depan rumah pun mulai melangkahkan kaki memasuki rumah.
Ketika akan menaiki tangga menuju kamar tidurku yang berada di lantai atas, tiba-tiba..
DEG.
Aku merasa tubuhku melayang di suatu tempat tak bergrafitasi. Aku merasa kakiku tak lagi menginjak lantai. Hanya ada udara di bawah, di atas, di samping, dan di belakangku. Tempat ini sangaaat luas, seolah tak ada batasan ruang dan waktu. Gelap. Tempat asing nan gelap ini didominasi warna biru tua, dan err.. aku merasa seolah kegelapan ini mengepungku. Ah, rupanya disini juga terdapat beberapa benda kerlap-kerlip seperti bintang namun berukuran lebih besar. Tapi tetap saja, gelap.
Sepertinya aku mengenali tempat ini. Ini yang sering kulihat di film sci-fi.
Ini luar angkasa!
Pantas saja aku agak merasa.. mual. Well, aku benci ketinggian.
Tapi, ini keterlaluan! Bagaimana bisa aku berada di tempat macam inii?? Apa ini hanya halusinasiku atau mimpi?? Tidak, aku bisa merasakan udara dingin di sekitarku. Eh? Kalau ini luar angkasa, kenapa ada udara? Dan bagaimana bisa aku bernafas? Argh, aku pasti sudah gila!
Entah ini nyata atau mimpi, bagaimana aku bisa kembali??
SEEETT..
Weits, apa itu?? Aku menerwang jauh. Ada suatu kilatan cahaya kecil. Cahaya kemerahan itu semakin bergerak mendekatiku dan semakin lama ukurannya pun membesar. Umm, apa itu? Saat benda asing itu bergerak dengan kecepatan super 100 meter dariku, aku baru ‘ngeh’. Itu komet!! Omo!
“Kyaaaa!!” jeritku yang aku tahu sia-sia. Kututup mataku rapat-rapat dan ketelungkupkan kedua tanganku di wajah. Meski begitu, aku tetap dapat merasakan cahaya yang sangat terang menembus sekujur tubuhku.
“....” Aku tak merasakan apa-apa lagi, cahaya iu telah lenyap, dan udara dingin tadi juga lenyap. Kubuka mataku perlahan. Tebak! Aku berada di rumah lagi! Dihadapanku saat ini hanya ada tangga putih menuju lantai dua.
Eh? Kok..? Ah, masa bodoh. Yang penting aku kembali.
Tiba-tiba pandanganku terfokus pada pintu belakang menuju halaman belakang rumah yang masih terbuka. Aku pun melangkahkan kakiku ke sana.
“Hmmm.. sejuk..” Angin malam sepoi-sepoi menerpaku. Rambutku yang terurai dibuatnya terbang berhamburan. Telingaku terasa geli oleh bisikan lembut angin yang lewat. Aku segera berjalan menuju halaman belakang, tempat dimana angin-angin malam menantiku.
Di beberapa spot, tampak perlengkapan barbaque yang tadi sudah kutata rapi, seperti pemanggang, kotak berisi daging dan bahan makanan lain, dan masih banyak lagi.
Huuuh..
Malam ini tak seperti malam sebelum-sebelumnya, tampak lebih terang. Kupandangi bintang-bintang yang bertabur di langit hitam dengan eloknya. Bintang-bintang itu seolah menjadi obat penghibur bagi sang bulan yang (kurasa) kesepian.
“Bulan, aku tahu kau pasti akan sangat kesepian di angkasa luas dan gelap seperti itu jika tak ada bintang. Kita senasib. Aku merasa hampa dan kosong jika tak ada ‘bintangku’ di sampingku. Argh, apa yang kukatakan?? Kurasa aku mulai gila.”
Aku duduk di rerumputan dengan terus mendongakkan kepalaku. Menatap langit.
Tiba-tiba sebuah cahaya kekuningan melesat di langit. Cahaya yang sangat kukenali, yah ini kedua kalinya aku melihatnya. Bintang jatuh!
“Bintang jatuh! Cepat buat permohonan! Seung—“ Seruku yang sebenarnya kutujukan pada Seunghyun. Namun aku sadar, ia tak ada ada di sini. Uh. Entah mengapa aku merasa Seunghyun seolah tengah duduk di sampingku. Kenapa aku jadi begitu rindu dengannya?? I must be crazy.
Pikiranku pun melayang ke masa lalu. Setahun yang lalu, di tempat yang sama..
(Flashback)
“SEUNGHYUN!! LIHAT ITU!! ITU.. ITU..!” Seruku heboh.
“Bintang jatuh?” ujar Seunghyun datar.
“Kenapa kau malah nyantai gitu?? Lepas headphone-mu itu!! CEPAT BUAT PERMOHONAAAN!!” Seruku layaknya orang demo.
“Uh, ahahaha.. agasshi, sepertinya kau salah alamat, tempat demo bukan di sini.”
“Argh! Aku seriuss!!” sahutku. Oke, aku sadar betul akan sifat maksaku ini.
“Ne, ne.” Ia terdiam kemudian memajamkan matanya. Aku pun ikut membuat permohonan. Lima menit kemudian kami membuka mata.
“Apa permintaanmu?” tanya Seunghyun.
“Eeeh? RAHASIA.” Aku menyilangkan kedua telunjuk di mulut. “Kata orang, jika kita memberi tahu permohonan kita pada orang lain, permohanan kita tak akan dikabulkan.”
Seunghyun menjitak kepalaku. “Pabo! Katakan saja.”
Sontak pipiku memerah. “Err, mola.”
“Cepat katakan, atau aku akan..” Lelaki di hadapanku memajukan wajahnya ke wajahku. Aish, apa-apaan namja ini!
Aku yakin wajahku sudah memerah seperti kepiting barbeque. “I-iya! Aku berharap.. agar aku dan orang-orang di sekitar dapat hidup bahagia..”
“Apa lagi?”
“Aku ingin menjadi pelukis terkenal.”
“Lalu?”
“Err..” Aduh, bagaimana ini?? Tak mungkin aku memberitahukan permohonan ketigaku. Ini memalukan. “Ah, itu.. aku ingin.. aku ingin agar Choi Seunghyun rajin belajar! Hahaha...”
Seunghyun melongo, shock.
Sebenarnya masih ada permohonan yang terakhir, namun aku hanya bisa menyimpannya dalam pikiranku.
Aku ingin agar aku dan Seunghyun dapat bersama, selamanya..
“Sekarang giliranmu. Apa permohonanmu??” tanyaku antusias.
“Aku ingin menjadi musisi terkenal. Hanya itu.”
What?? “Hanya itu??” Tak adakah permohonan yang berhubungan denganku? Ataupun permohonan agar hubungan kita langgeng kek. “Huuh.” Aku menghembuskan nafas. Kutatap wajah dinginnya yang menyebalkan itu. Argh, aku benar-benar ingin mencekik orang ini!
BUG. BUG. BUG. Kupukuli pundaknya sebal.
“YA! Kau ini kenapa sih??”
“PABO! PABO!! PABOO!”
“YA~!”
(End Flasback)
 “Seunghyun jahat! Aku sudah menyiapkan ini susah payah, kaunya.. malah tak datang!” Kutendang-tendang tanah yang kuinjak, mengekspresikan rasa kesalku. “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Payah! Payah!! Selalu saja—“
BLITZZ..
Pandanganku kembali menangkap kilatan cahaya bintang jatuh. Bintang jatuh lagi?
Lagi-lagi bintang jatuh kembali menampakkan wujudnya. Ini sudah bintang jatuh kelima kalinya dalam semenit ini. Tiba-tiba saja terjadi korsleting di rumah, lampu taman yang sebelumnya bersinar kini padam. Halaman belakang pun kini menjadi gelap, beruntung masih ada bulan yang masih menampakkan cahaya remang-remangnya.
Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku jadi ketakutan begini? Seunghyuun! Kau dimana sekarang?
Appa, eomma, aku benci gelaaapp! Aaaa!!
..:: TBC ::..
Gimana? ANEH? Bagus? Keren? Hancur? Mengerikan? Atau apalah.. Pokoknya komen ya, gaes! :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar