AUTHOR : Ifa Thifa Athifa
LENGTH : Ficlet? One-shot?
GENRE : Tragedy, education
RATING : PG-13
CAST : Key, Nicole
Hari ini salju turun derasnya. Udara di sekitar menjadi sangat dingin, jalanan maupun atap bangunan diselimuti gundukan salju tebal. Setiap orang pasti menggigil kedinginan, meski mereka telah memakai pakaian musim dingin dengan lengkap. Cuaca kali ini memang berbeda dari biasanya, menjadi lebih dingin. Aku agak khawatir akan terjadi badai malam ini.
Hari sudah menjelang senja. Namun mall masih saja penuh sesak dengan para pengunjung yang setiap detiknya selalu berhamburan memasuki ataupun keluar dari mall. Sebenarnya aku agak malas pergi ke mall dikarenakan tempatnya yang selalu berdesak-desakan ditambah lagi cuaca musim dingin yang ekstrim ini. Namun mau bagaimana lagi, hari ini hari natal dan aku belum membelikan keluargaku hadiah natal. Aku berharap natal tahun ini menjadi natal paling indah, dengan berkumpul bersama keluarga, tidak sepert tahun lalu, yang hanya dirayakan dengan teman kantor.
Saat aku telah selesai berbelanja ria, aku melihat seorang gadis kecil berusia sekitar 7 atau 8 tahun di sisi lain mall. Ia sedang berjongkok di atas lantai. Di wajahnya yang pucat dan agak kumal tidak menunjukkan bahwa ia sedang kesulitan ataupun ketakutan. Gadis itu hanya duduk istirahat menikmati pemandangan lalu lalang pengunjung mall. Sebenarnya aku ingin menghampirinya, namun nampaknya ia tak memerlukan bantuan siapapun.
“Haruskah aku berhenti dan bertanya padanya, apakah ia membutuhkan pertolonganku?” tanyaku dalam hati. “Apakah ibunya baru saja meninggalkannya sendiri di mall yang luas ini?” Aku terus bertanya dalam hati diliputi kebimbangan dan kekhawatiran.
“Hey! Key! Lama tidak berjumpa! Sedang apa kau?” Seorang perempuan yang pernah kukenal menyapaku.
“Ah, Nicole, lama tidak berjumpa? Aku sedang membeli kado natal. Kau?” balasku.
“Hmm, aku cuma jalan-jalan. Lagian keluargaku jauh, jadi tidak ada yang bisa dikasih kado natal.” jawabnya sedih. “Ah, bagaimana kalau kau main ke kos-kosan baruku dekat sini! Aku lagi kesepian nih!”
“Ng, tapi….” kataku bingung.
“Ah, sudahlah! Ikut aku sekarang! Aku akan memasakkan makanan kesukaanmu, deh!” ujarnya seraya menarik paksa kedua tanganku.
Huh, mau bagaimana lagi. Aku terpaksa ikut dengannya. Nicole sama sekali tak berubah, tetap kasar dan senang memaksa. Tapi rasanya senang bisa bertemu kawan lama.
Sepanjang perjalanan, aku tidak bisa melupakan gadis kecil tadi. Pikiran berkabut kembali melintas di benakku. Apakah gadis kecil itu perlu pertolonganku? Apakah aku hanya pura-pura tidak tahu?
Nicole yang mengetahui pikiranku sedang galau, terus melontarkan lelucon yang konyol, berusaha membuatku cerah kembali, dan sukses membuatku tertawa. Hal itu dapat melupakan sedikit keraguanku. Lalu kami sampai di kos-kosannya. Tempat itu cukup minimalis dan hangat. Nicole menyalakan perapian, dan lalu kami duduk di sofa empuk di dekatnya sambil menikmati kudapan dan coklat hangat. Hangat. Nyaman sekali, rasanya tidak ingin pergi dari sini. Kami berbincang-bincang mengenai bagaimana perkejaan kami, tentang masa-masa sekolah dulu, keluarga, bahkan tentang pacar, diselingi dengan lawakan-lawakan ala Nicole.
Kami menyalakan radio, dan mencari saluran berita. Pada berita ramalan cuaca, diberitahukan bahwa malam ini udara akan semakin ekstrim dengan suhu dibawah -30 derajat Celsius dan ditakutkan akan terjadi badai salju. Jadi diharapkan setiap orang tetap tinggal dalam rumah.
Setelah mendengar berita itu, aku mejadi merinding. Aku teringat akan gadis kecil di mall itu. Aku takut kalau terjadi sesuatu padanya.
“Nicole, aku pulang dulu ya! Aku ada keperluan mendadak! Maaf!” kataku tergesa-gesa.
“Key, tunggu! Kau bisa menginap di sini semalam, udara di luar sangat dingin! Lagipula kau belum menghabiskan sup-mu!” ucap Nicole mencegah langkahku.
“Ng, maaf Nicole, tapi aku sudah kenyang! Bye! Aku akan mengunjungimu lagi kapan-kapan.” balasku.
“Tunggu…. kau lupa membawa jaketmu…” teriaknya. Namun aku sudah terlanjur berlari keluar, jadi aku tak dapat mendengarnya.
Jalanan sudah sepi padahal baru jam 8 malam. Aku terus berlari menuju mall, tak peduli akan udara dingin yang menusuk. Aku terus memikirkan nasib gadis malang itu, aku heran kenapa aku bisa sangat memikirkan hal itu padahal aku ini orang yang super cuek. Yang jelas, hal itu sangat mengusikku. Aku harus segera menuntaskan hal ini.
Saat aku tiba, rupanya mall mulai tutup. Terdengar beberapa kerai diturunkan dan para pedagang mengemasi barang dagangannya. Di luar mall aku tak melihat gadis itu. Jadi aku melongok ke dalam mall, namun nihil, gadis itu tak ada dimana-mana. Huh, apakah gadis itu cuma imajinasiku yang kembali liar? Berfikir aku kehilangan kesempatan untuk menolong anak tersesat dan malang itu.
Kurasa gadis itu akan baik-baik, kalau tidak ia tentu masih di duduk sana. Ya, sang ibu mungkin sudah menjemput anak perempuannya. Saat itu pikiranku menjadi tambah galau dan emosional. Aku pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu dan belari menuju rumah, ke tempat yang aman dan hangat.
Sesampainya di rumah, keluargaku kaget melihatku yang basah kuyup oleh salju. Aku terus menggigil. Aku baru sadar bahwa aku tak mengenakan jaket musim dinginku, pantas saja aku membeku. Kedua orang tuaku khawatir aku terkena hypothermia dan demam, sehingga mereka menyuruhku beristirahat di kamar. Namun aku menolak, aku memilih menghabiskan waktu bersenang-senang bersama keluarga di malam natal ini. Mungkin hal itulah obat yang manjur untuk menyebuhkanku. Ternyata ramalan cuaca itu benar, malam ini terjadi hujan es yang sangat lebat diikuti angin kencang. Untung saja aku berada di rumah, kalau aku berada di luar mungkin aku sekarang sudah menjadi bongkahan es.
Keesokan harinya, sudah pukul 9 pagi, namun aku masih meringkuk dalam ranjang. Aku malas beraktifitas karena udara dingin. Lalu ibuku memaksaku untuk bangun dan membantu membersihkan halaman dari salju. Saat keluar rumah, aku mendapati jalanan dan atap rumahku yang dipenuhi gumpalan salju setinggi satu meter. Aku fikir bahwa peristiwa kemarin malam sangat hebat.
Lalu setelah menyelesaikan pekerjaan rumah yang melelahkan, aku segera menuju tempat penjual surat kabar, kemudian aku memutuskan untuk bersantai. Pagi ini aku merasa agak tenang, duduk di meja makan dekat perapian ditemani koran dan secangkir teh hangat. Tetapi ketika aku melihat halaman depannya, aku terperanjat kaget. Di bagian bawahnya terdapat sebuah judul kecil.
“Seorang gadis kecil mati di mall perbelanjaan setempat”
“….Pukul 4 pagi polisi menerima telepon, dari penelpon yang mengatakan gadis kecil yang diketahui namanya Lizzy, mati di balik gedung mall…. Hujan es dan angin kencang yang dingin, yang menyebabkannya mati…. Ketika ia berbaring, jatuh tertidur, dan menghembuskan nafas terakhirnya….”
Aku tidak sanggup membaca berita selanjtunya. Perasaanku campur aduk, kaget, sedih, menyesal. Air mata mulai membanjiri wajahku.
Sementara aku aman dan bahagia dalam kehangatan keluarga, seorang gadis kecil membeku dalam tidurnya tepat di malam natal, yang seharusnya merupakan saat dimana setiap orang bahagia.
Bertahun-tahun telah kulalui, tapi hal itu tetap mengahantui mimpiku;
Apakah gadis kecil yang mereka temukan adalah gadis kecil yang kulihat?
Aku tidak bisa melupakannya, bagaimana pun aku berusaha.
Tapi kini bila seorang tampak membutuhkan bantuan, AKU TAK AKAN PERNAH MENGACUHKAN.
Pelajaran yang kudapat memang sulit tapi itu benar,
“Kesempatan terakhir yang mungkin dimiliki seseorang bisa saja milikmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar